Banner 468 x 60px

 

" TOLE "

0 comments

Cerpen Izar Razhman "TOLE"


ilustrasi gambar by google

Sejak adegan terakhir pada film kartun yang dia tonton di rumah temannya tadi, Tole sudah menahan haru pada dirinya sendiri. Film animasi itu memang benar-benar membuat penasaran setiap episodenya. Hingga ketika kakinya baru melangkahi pintu rumah, selaput penahan air matanya seketika saja dipecahkan.

“Mak, aku pengen punya tipi,” rajuk Tole dengan sekonyong-konyong. Napasnya terengah-engah karena pasti lelah berlari saat melewati tanah kosong di sepanjang jalan yang minim penerangan. Bibirnya dimanyunkan, wajahnya pun dibuat semelas tuna wisma. Emaknya yang saat itu sedang sibuk memisahkan lingkaran obat nyamuk yang masih saling terkait tidak langsung menjawab. Membuat Tole mengulangi perkataannya. Kali ini bekas bungkus kok yang selalu ia gunakan bermain teropong-teropongan bersama temannya ia gunakan sebagai cerobong alternatif di mulutnya. “Maaak ...” Kedua sisi pundak Emak seketika terjinjit tanpa aba-aba, membuat lingkaran obat nyamuk di tangan Emak patah.

“Ng... Ngapunten.” Segera Tole meminta maaf atas kelancangannya setelah mendapati sepasang mata Emak terlihat lebih bulat dari sebelumnya.

“Korek apinya mana? Tadi habis kamu pakai mainan!” tanya Emak setengah mengomel, tanpa peduli dengan apa yang baru saja anaknya orasikan.

“Ini.” Dikeluarkannya korek api dari dalam buntalan sarung Tole yang menggunduk di bagian perut, lantas menjulurkan ke arah Emak.

“Kalau habis dipakai itu mbokya dibalikin ke tempatnya lagi,” renyah Emak menghardik setelah merebut korek api yang di ujung bawahnya terdapat senter mini itu.

Tole masih mempertahankan kemanyunan bibirnya sedari tadi.
“Kalau gak ada korek itu, aku gak bisa pulang, Mak.”

Cepat sekali, Emak memalingkan wajahnya dari ujung obat nyamuk yang baru saja disulutnya dengan korek api. Segesit nyamuk yang lari ketakutan, mata Emak terbirit-birit ke arah wajah Tole yang digeletakkan begitu saja di atas meja.
“Kalau takut ya gak usah nonton tipi!” Meja digebrak.

Malam itu, kalimat terakhir yang keluar dari mulut Emaknya telah menjelma jadi nyanyian pengantar tidur bagi Tole. Senandung itu seolah musik yang tanpa sengaja tertekan tombol repeat sehingga tak henti-hentinya melantun di kepalanya, lengkap dengan video klip tanggul ambrol yang membanjiri desa pipi pualam, hingga ia pulas.

Pagi harinya, tidak banyak yang mereka bincangkan. Mata Tole masih sembab sisa kejadian semalam dan Emaknya diam-diam juga masih menyimpan rasa bersalah yang dalam.

“Tidak usah, jatah uang jajanku Emak masukkan saja ke celengan bambu untuk beli tipi,” kata Tole nyaris tanpa ekspresi. Ia menolak pecahan uang lima ratus rupiah sebanyak empat koin dari tangan Emaknya.
“Assalamualaikum,” pamitnya kemudian setelah mengecup tangan Emak yang masih mengepal—mungkin--satu-satunya harta yang ia miliki di pagi ini.

Sepatu pantofel peninggalan bapaknya menuntun langkah Tole ke sekolah. Meski kedodoran, sekalipun ujung dalamnya sudah dijejali dengan buntalan koran bekas. Tapi Tole tetap merasa nyaman dengan satu-satunya warisan dari bapaknya yang masih bisa ia pakai itu. Daripada harus lelah push up sepuluh kali, pikirnya.

Sedang emaknya mendadak jadi janda ayu yang bisu. Serupa patung, patung dengan air mancur yang mengalir dari kedua belah mata sayu. Tapi tentu yang baru saja terjadi itu bukanlah sebuah kutukan. Janda yang seharusnya beranak dua—seandainya saudara kembar Tole tidak meninggal—itu kembali menjadi manusia utuh. Patung di tubuhnya seketika sirna ketika ia sadar bahwa matahari sudah berhasil memanjat dinding bumi, kecuali air mancurnya.

Di sebelah kiri rumahnya adalah ladang jagung. Sebelah kanan ada kali yang jika arusnya terus diikuti, akan menuju pada air terjun yang tercipta karena patahan sebuah tebing yang disebabkan bencana tanah longsor sekitar sewindu lalu. Sedang di depan rumahnya—setelah halaman dan pagar—adalah jalanan tidak terlalu lebar yang menuju ke rumah-rumah penduduk lain. Meski jaraknya tidak saling berdekatan. Lalu di seberang jalan tersebut—lima puluh meter ke sebelah kiri—terdapat sebuah surau tua yang mana di sanalah biasanya Tole dan teman-temannya mengaji.  Bangunan tua itu dikelilingi oleh rerimbun pohon jati, mahoni dan semacamnya. Di sanalah biasanya emak memunguti dahan dan ranting rapuh untuk dijadikan sebagai bahan bakar memasak. Kadang jika beruntung, emak bisa saja menemukan telur puyuh yang mungkin induknya telah ditembak mati oleh pemburu amatiran. Atau bahkan memang sengaja ditinggalkan oleh induknya. Sebab apa? Siapa yang tahu. Mungkin saja karena kebanyakan nonton televisi, batin Emak menggerutu.

Butuh perjuangan yang tidak mudah untuk bisa menyalakan ranting-ranting pohon yang belum kering benar, meski sudah diakali dengan menjejalkan dedaun jati kering. Perempuan yang suaminya mati karena radang paru-paru yang diderita sejak lama itu meniup-niup tungku tanah liat menggunakan cerobong kecil yang terbuat dari potongan batang bambu. Sekilas memang terlihat mudah, tapi jika salah prosedur, apinya hanya akan melahap habis dedaunannya tanpa berhasil menyulut ranting. Tapi keahlian Emak Tole, haram untuk diragukan, meski napasnya harus tersengal-sengal terlebih dahulu. Seperti jelang siang ini, hingga matahari telah bersolek menor di balai langit, si Emak baru selesai memasak. Hanya gara-gara semalam gerimis.

“Masak apa, Mak? Baunya sedap.”

Emak tergelagap dengan kepulangan Tole. Sadar, sepanjang pagi tadi waktunya habis untuk bermain-main dengan api. Selangkah kaki Tole kemudian, Emak menghadang.

“Lupa dengan yang diajarkan Emak setiap hari?” nada bicaranya terdengar culas.

Tole yang masih menenteng sepatu pantofelnya—inisiatif agar tidak cepat rusak—segera mengoreksi diri.
“Iya. Assalamualaikum.”

Baru setelah itu bara di wajah emaknya padam. Lalu menjawab, “Waalaikum salam.” Sembari mempersembahkan punggung tangan kanannya tepat di ujung hidung anaknya.

Bungkus kok di tangan kanan Tole segera dilempar hingga tersungkur jauh di bawah kolong. Kemudian gegas ia menghirup punggung tangan kanan emaknya yang jelas masih beraroma bawang bercampur asap.

“Telur puyuh kesukaanmu, Le.” Bibir emak disunggingkan. Cara yang cerdas untuk mengembalikan suasana harmonis. Tapi Tole justru membanting napasnya keras-keras ke udara.

“Bosen, Mak,” katanya malas.

Emak sontak meletakkan dua porsi makanan dengan kasar ke atas meja.
“Akhir-akhir ini kamu sering ngeluh, Le!”
Wajah emak kini berada sangat dekat dengan hidung anaknya. Penuh selidik.

Tole memundurkan wajah beberapa senti saja tanpa sedikitpun menyinggung napas emaknya. Parasnya keruh dan tertunduk.
“Coba aku seperti Doraemon, pengen apa-apa tinggal ambil dari dalam kantong ajaib.”
           
            Kini Emak berdiri lebih sigap. Lantas menggulung kedua lengan dasternya sampai di atas siku.
“Ini semua pasti gara-gara tipi!”
Meja digebrak oleh sebelah tangan emak yang sebetulnya tidak terlalu kekar, tapi hentakan yang dihasilkan cukup membuat sepasang telur puyuh yang berbaring di piring mungil terlonjak, dan salah satunya menggelinding ke luar arena. Syukur tangan emak yang satunya segera meraih sehingga tidak jatuh sia-sia. Sedang Tole mulai terisak. Baru kali ini dia melihat emaknya menyeringai sehebat itu.

“Bohong! Semua yang ada di tipi itu bohong, Le!”

Airmata Tole mulai menyembur deras. Tapi wajahnya seketika ditekuk bertopang sebelah tangan di meja, tangan satunya lagi berada di belakang tengkuk mencoba merapikan bulu kuduk yang berantakan. Maka emaknya terus saja menghardik panjang lebar. Tentang apa-apa yang dilihatnya di layar kaca; Kartun tidak lebih menyehatkan dari suntikan vaksin kadaluarsa. Sinetron-sinetron remaja, pun lebih pantas distempel sebagai media kursus mesum gratis. Berita-berita politik yang dikemas absurd tak ubahnya pertunjukan ludruk yang mengundang tawa geli nan ironi. Acara-acara reality show murahan berkedok sosial. Nyaris semua adalah kepalsuan belaka.

“Dunia tipi itu semuanya palsu! Ya, semua! Ngerti kamu, Le?!”

Tidak ada jawaban.
Setiap kalimat yang meluncur bertubi-bertubi bagi Tole adalah musik pengantar tidur. Dan bocah itu kini telah benar-benar lelap.

***

Sepulang sekolah Tole lekas menghambur ke dapur dengan semangat yang berapi-api. Mengalahkan tungku tanah liat yang bahkan belum berhasil dinyalakan oleh Emaknya. Hujan semalam sedikit lebih kerap dari kemarin.

“Mak, kata guru dan teman-temanku tadi, desa kita masuk tipi, loh,” serunya lantang.

Emak yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, berdiri pelan menghadap Tole lantas menggulung kedua lengan dasternya.

SELESAI

Respon
1.      Bagaimana pendapat kalian mengenai perwatakan tokoh ‘Emak’?
2.      Apakah ending dari cerita ini cukup menarik?
3.      Pesan moral apa saja yang bisa dipetik dari konflik yang dialami Tole sekaligus dari keseluruhan cerita?

SSalam :)
Read more...

Cerpen Izar Razhman "Pudarnya Benang Merah"

1 comments

Cerpen Izar Razhman
"Pudarnya Benang Merah"

 illustration by google

Kutarik napas dalam-dalam ketika Oma Ela hendak memulai cerita. Agaknya seisi ruangan turut melakukan hal yang sama. Dalam keadaan seperti itu, sesaat aku teringat dengan opening film ‘Titanic’ di mana Si Rose Tua dikelilingi beberapa orang yang memasang wajah tegang—tak sabar ingin segera mendengar ceritanya. Hanya saja bedanya antara Oma Ela dan Rose Tua adalah; jika Rose Tua saat itu memegangi properti berupa liontin dan di sampingnya terdapat seekor anjing, maka di tangan Oma Ela tergenggam angin kosong dan di atas meja di sebelahnya dibiarkan seekor kucing merebah malas di sana. Dan seharusnya aku tidak perlu mengungkapkan apa yang baru saja berkelebat di kepalaku, tapi akhirnya keceplosan juga.

“Dari tadi kudengar kau bilang begitu, Vin,” kata Oma memenggal namaku—Kevin—di sela-sela persiapannya berkisah.

“Langsung saja, Oma,” pinta kami dengan mengambil posisi ternyaman—duduk bersila di lantai.

Oma Ela terlihat menarik napas panjang sekali lagi, lantas mengembuskannya keluar. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena seolah telah gagal membuatnya berkonsentrasi. “Jadi,” kata Oma memulai. “Cerita tentang Titanic itu hanya fiktif.”

Kami semua sontak saling berpandangan mendengar pernyataan Oma. “Rekam saja terus, Bil,” saranku. “Aku yakin Oma Ela memiliki cara bercerita yang unik.” Bil kembali fokus pada handycame yang dipegangnya.

“Mmm. Dona,” panggil Oma. Wanita di sebelahku bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Oma Ela. “Tolong buatkan aku green-tea,” pintanya kemudian.

Dona sempat memasang wajah keberatan. Dia tidak mau ketinggalan cerita barang satu segmen pun. Sebelum akhirnya aku berkata, “Kau satu-satunya yang cukup pantas untuk melakukan tugas itu, Manis.”

“Baik,” balas Dona gegas ke dapur. “Jangan mulai dulu selagi aku membuatkan minuman.” Kepalanya memutar ke belakang sesaat dengan sebelah tangan mengacung, lebih mirip mengancam.

Tak lama kemudian Dona kembali dengan membawa nampan ukuran sedang. Di atas nampan itu berdiri lima gelas berisi green-tea panas yang mengepul. Sekelebat ia sungguh mirip pelayan professional.

“Gadis baik,” puji Bil.

“Jangan berulah, Bil.” Dona menanggapinya dengan sikap sinis. “Lanjutkan, Oma.”

Tangan Oma Ela bergetar ketika kulihat ia sedang berusaha menyecap green-tea yang jelas masih panas itu. Tapi sepertinya ia berhasil menyeruputnya sedikit. Kami lebih memilih mendiamkan minuman kami sesaat, paling tidak sampai uapnya sedikit berkurang.

“Jack dan Rose hanyalah tokoh fiktif,” kata Oma. Kami kembali memandang satu sama lain, kecuali Bil. Dia tetap fokus agar gambar yang direkamnya tidak terguncang. Sudah kusarankan sebaiknya dia menggunakan trypod, tapi katanya tak perlu.

“Ya, kami tahu itu,” putus Pablo. “Jack dan Rose pada film Titanic memang bukan orang aslinya. Aku tidak yakin kalau figur aslinya setampan Leonardo de Caprio atau semolek Kate Winslet.”

“Diamlah, Pablo,” sentakku berbisik. “Sudah kubilang Oma memilkiki cara yang berbeda dalam hal bercerita.”

Pablo mengangguk enggan, akhirnya. Memasang wajah setengah ragu.

Oma melanjutkan. “Aku tidak sedang berbicara tentang filmnya. Tapi di kehidupan nyata-nya. Bahwa Jack, Rose dan Titanic hanyalah karangan belaka.”

Kami berusaha sebisa mungkin untuk diam dan tetap mendengarkan. Tapi Pablo kelihatan seperti tidak tahan dengan hal itu. Dia berdiri. Membuka kedua telapak tangannya lebar-lebar dengan pundak yang sedikit dijinjing, menatap kami semua. Aku memandang lekat-lekat wajah Pablo. Telunjukku mengacung tepat di depan hidungnya. “Sudah kubilang ...”

“Oke, oke.” Tubuh Pablo kembali melunak. Bil mengarahkan kameranya ke arah kami. “Kita tidak akan butuh adegan itu, Bil,” sergah Pablo memeringati.

Oma berdeham. Dengan cepat Bil mengarahkan kameranya ke seseorang yang memang seharusnya menjadi titik fokusnya.

“James Cameroon—orang yang menyutradarai film Titanic itu,” kata Oma “Dia menjiplak dari sebuah novel yang berjudul ‘Van der Wicjk’”.

Adegan saling berpandangan kembali berulang. Tapi tidak satu pun dari kami berusaha menyanggah. Oma Ela menyeruput green-tea-nya sekali lagi. Uap di permukaan gelas kami sudah tidak selebat tadi. Hanya butuh tiupan kecil untuk bisa membuatnya bersahabat.

“Ya, Titanic menjiplak dari buku Van Der Wicjk,” jelasnya lagi. Kami tetap memerhatikan. “Kenapa tidak ada yang protes?” tanyanya sendiri. “Pablo? Kau tidak ingin berorasi?” Tangan Oma terlihat menepuk-nepuk lengan kursi sandarnya. Menunggu kami menanggapi.

Aku menatap wajah Pablo. Tubuhnya digoyang-goyangkan pelan layaknya seseorang yang berusaha tenang. Lalu kualihkan pandanganku ke arah sesuatu yang tidak jelas. Aku hanya tidak ingin melihat siapapun. Lalu Dona angkat suara, “Titanic tenggelam pada tahun 1912. Van Der Wicjk tenggelam pada tahun 1936.” Dona mengatakan itu sambil menunduk. Seolah dia sedang berbincang dengan tali sepatunya.

Aku mendapati Bil sempat mengabadikan momen di mana Dona melirik ke arah Oma sebentar. Tapi kemudian kameranya lekas beralih membingkai wajah Oma Ela.

“Titanic menjiplak cerita Van Der Wicjk.” Tangan Oma turut mengacung menegaskan ketika mengatakan hal itu. “Buku ‘Van Der Wicjk’ ditulis oleh Buya Hamka. Kemudian di adopsi menjadi film oleh seorang sutradara bernama Sunil Soraya.” Oma menjelaskannya dengan tempo yang sangat pelan. “Lalu Zainuddin dan Hayati ..., kalian tahu siapa mereka?” Oma menjeda ceritanya. Kami masih diam. “Jawablah, Nak. Aku bertanya pada kalian.” Tangannya kembali menepuk-nepuk lengan kursi.

“Tokoh utama dalam cerita Van Der Wick.” Kami nyaris berbarengan menjawabnya.

“Cinta mereka akhirnya kandas karena kematian,” Pablo menimpali. Bil mengarahkan kameranya sedikit lebih terlambat ke arah Pablo. “Hentikan, Bil.”

“Benar sekali.” Jempol Oma menyembul lebih tinggi di antara jari-jarinya yang lain. “Setidaknya kau berkata jujur tentang sebuah bukti—,” Mata Oma menatapi kami bergantian. Saat itu kebetulan kami semua tidak sedang merunduk. “—tapi bukti tidak selalu berarti realita,” pungkasnya.

Kami benar-benar tidak tahan untuk tidak kembali saling bertukar pandangan. Terlebih Pablo, ketika mata kami saling bertemu, tatap dan senyum kecilnya menyiratkan ironi.

Oma Ela menegaskan, “’Van Der Wicjk’ itu tidak nyata. Tidak ada dalam relaita. Kalian tahu itu artinya apa?”

‘Kita seperti anak-anak TK yang mendengarkan dongeng, yang kerap dipotong dengan sebuah pertanyaan, dan seolah kita harus menjawab dengan jujur, sekalipun Bu Guru tidak membutuhkan jawaban dari kita.’ Setidaknya perasaan itu mungkin yang sedang mengaung di kepala Pablo ketika kulihat tangannya mengusap wajahnya yang sama sekali tidak perlu diusap.

“Buya Hamka itu penulis hebat,” kata Oma menyudahi edaran matanya, lamur dan berlabuh di tangannya sendiri yang saling memagut. “Tidak heran jika dia mampu membuat cerita fiksi se-nyata dan se-detil itu.”

“Oma?” Dona meminta perhatian. Tapi telapak tangan Oma menodong perkataan Dona sebelum berlanjut.

“Tidak bisa diragukan lagi. Memang begitu faktanya. Titanic menjiplak dari Van Der Wicjk. Dan Van Der Wicjk sendiri adalah karangan fiksi yang diciptakan oleh seorang ahli pikir. Kau tidak ingin menyanggah, Nak?” Kepala Oma menunjuk ke arah Pablo.

“Kalau tidak menyinggungmu, aku ingin berkata bahwa Anda sedang membual. Tapi jika itu tidak menyinggungmu.”

Reflek saja, aku meremas kerah jaket Pablo. Nyaris kepalan tanganku meluncur seandainya tidak kudengar Oma berkata, “Ada bagian yang memang kubual.” Lalu kurasakan tangan yang tadi kugunakan meremas kerahnya terpelanting menjauh.

“Sekali lagi kau lakukan itu,” ucap Pablo kepada Bil “Jangan salahkan jika apa yang sudah kaulakukan tidak akan ada gunanya.” Dia begitu tidak suka ketika kamera mengarah ke wajahnya di saat situasi yang selalu kurang baik. “Lagipula, semua ini memang tidak ada gunanya.”

Aku sempat ingin kembali meremas kerahnya lebih kencang. Tapi kemudian telunjuk Pablo menuding tajam di depan wajahku. “Dan kau!” seringainya “Jangan lakukan itu lagi padaku.” Bukan telunjuknya yang membuatku urung menghajarnya, tapi sebelum semua ini dimulai, kami sudah berjanji akan menyelesaikan project secara professional.

Oma bertepuk tangan sekali. Kemudian nada tawa dan batuk saling menerobos keluar dari tenggorokannya. Setelah itu tidak butuh jeda lagi untuknya melanjutkan, “Bagian yang kubual adalah; bahwa Van Der Wicjk itu fiksi. Itu tidak benar. Van Der Wick nyata adanya. Tapi kisahnya sebenarnya tidak seperti yang beredar di masayarakat. Tidak seperti yang ditulis Buya Hamka. Cerita yang disadurnya sengaja dibumbui demi kepentingan tertentu. Manipulasi.”

“Oma?” Dona kembali meminta perhatian. Lagi-lagi tangan Oma membungkamnya dari jarak jauh.

Pablo mengeluh, “Omong kosong.”

“Sebaiknya kita tetap diam sampai ceritanya selesai,” saranku.

Bil mengacungkan jempolnya sambil tetap memandangi handycame.

Dona mengasihani tali sepatunya.

“Di sebuah pelosok desa—,” suara Oma tertatih. Ia memberi jeda sedikit ketika hendak mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku pakaian rajut hangat yang dikenakannya.

Seketika kami semua memberikan perhatian lebih. Kupikir—mungkin juga pikir kami semua—barangkali  ini adalah ending-nya.

Sapu tangan yang baru saja dikeluarkan Oma itu tidak digunakan untuk menyeka apapun. Ia hanya menggenggamnya erat dengan kedua tangan di atas pangkuan.

“—ada sepasang kekasih yang akhirnya menikah. Yang perempuan bernama Jameela dan lelaki yang meminangnya memiliki nama Heru Razh.

“Saat menikah, usia Si Lelaki baru sembilan belas tahun, sedang Jameela berusia lima belas. Cukup muda. Suatu ketika, saat peperangan sedang pecah, seluruh kampung melarikan diri—ke hutan, ke puncak gunung, ke dalam goa, bahkan yang paling bodoh adalah sembunyi di dalam genangan sungai. Heru Razh dan Jameela termasuk yang bodoh. Delapan hari mereka dan beberapa orang menggenangkan diri di tepi sungai yang deras dan dingin. Hanya kepala mereka yang dibiarkan mengambang dengan ditutupi dedaunan atau karung atau apapun yang bisa digunakan sebagai penyamaran untuk mengecoh perhatian Penjajah. Sesekali ketika dirasa aman, salah satu dari mereka akan bergiliran naik ke permukaan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Kadang daun singkong, buah pisang mentah, ubi jalar, ulat daun, atau apa saja yang tidak beracun.

“Semakin hari jumlah mereka kian berkurang. Beberapa di antaranya adalah anak-anak yang tenggelam terbawa arus, ibu-ibu hamil yang mati karena pendarahan hebat tanpa pertolongan berarti, atau siapapun karena sakit, kedinginan dan kelaparan. Akhirnya, mereka yang tersisa berinisiatif membuat rakit dari susunan pohon pisang dan berniat melarungkan diri ke mana pun arus akan membawa meraka. Mereka pasrah.

“Tiga hari tiga malam mereka diombang-ambingkan oleh arus sungai yang membelah hutan. Beberapa di antara yang tersisa tadi meregang nyawa karena sebab yang jelas tidak jelas—takut, lapar, dingin, depresi, apapun. Sampai pada akhirnya tinggal Heru Razh dan Jameela yang bertahan. Menurut kalian kenapa mereka bisa bertahan?” mata Oma menyelidik. Menegaskan bahwa ia benar-benar sedang bertanya dan membutuhkan jawaban.

“’Cinta’, mungkin?” kataku.

“Mungkin juga,” kata Oma. “Aku sendiri tidak tahu pasti. Karenanya aku bertanya, barangkali akan kutemukan jawaban yang lebih masuk akal.”

Kami kembali saling berpandangan satu sama lain. Bil mengarahkan kameranya ke arah kami. Pablo tidak keberatan.

“Apa mungkin mereka egois?” Dona coba menyumbang jawaban.

Kami semua lantas menatap Dona. Mata kami seakan menyorotkan layar hologram yang bertuliskan ‘maksud kamu?’.

“Mm—,” Kini Dona tampak ragu dengan jawabannya sendiri. “—maksudku, apa mungkin mereka yang mati itu sebenarnya rela mati karena menaruh harapan besar terhadap Razh dan Jameela?”

“Harapan apa?” Pablo bertanya dengan antusias.

“Ya?—” pundak Dona berayun, “—mungkin karena mereka masih muda, di tambah lagi ..., pengantin baru. Entahlah.”

“Mungkin juga,” Oma menyahut. “Apapun alasannya, yang jelas tidak ada yang tahu kenapa hanya mereka yang ditunjuk Tuhan untuk tetap hidup. Dan mungkin Heru Razh dan Jameela sendiri pun tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu seandainya mereka ada di sini.”

“Well, lantas?” Pablo kembali bertanya dengan tidak sabar.

Oma pun menjawab dengan lebih cekatan, “Buya Hamka terinspirasi dari kisah Heru Razh dan Jameela. Itu fakta tak terbantahkan. Yang kemudian namanya disamarkan menjadi Zainuddin dan Hayati. Lalu kapal besar yang diciptakan oleh imajinasinya itu sebenarnya adalah sebuah rakit yang terbuat dari jalinan pohon pisang busuk.”

Kami menghela napas panjang. Sangat panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Seakan cerita itu sudah berakhir. Tapi kami belum menemukan benang merahnya. Atau lebih tepatnya benang merah yang kami temukan masih tampak kusut dan berkerut. Lalu seakan Bil mewakili perasaan kami, dia bertanya pada Oma, “Maaf, Oma,” katanya memulai. “Seandainya saja tahun tenggelamnya Van Der Wicjk lebih dulu ketimbang Titanic, mungkin kita akan lebih mudah untuk mencernanya. Tapi ...,” Sesaat Bil menoleh ke arah kami, meminta dukungan, tapi kami tidak bisa memberinya apapun kecuali gestur tak jelas. Kemudian dia melanjutkan, “Tapi bagaimana mungkin Titanic meniru Van Der Wicjk sedangkan Titanic tenggelam di tahun 1912 dan Van Der Wicjk di tahun 1936?”

Agaknya green-tea kami sudah dingin. Oma menyeruputnya dengan mudah dan lancar, bahkan tanpa tiupan. Setelah tenggorokannya melakukan tugas dengan baik, Oma bersuara, “Aku ingin sekali menjawab, bahwa; Kisah Heru Razh dan Jameela terjadi jauh sebelum muncul cerita Titanic. Sedang kisah yang ditulis Buya Hamka adalah hasil saduran dari sebuah buku hystorial yang terpendam sekian lamanya di dalam goa. Jadi sebenarnya, baik itu Van Der Wicjk atau Titanic keduanya sama-sama menjiplak dari kisah hidup Heru Razh dan Jameela. Aku ingin sekali menjawab begitu. Tapi mungkin kalian tidak akan percaya. Jadi kita permudah saja, bahwa sebenarnya; sejarah, tidak terlalu penting untuk diingat, dinikmati atau bahkan dipelajari. Kita hanya perlu untuk percaya. Sejarah mana yang ingin kalian percayai, itu terserah kalian.”

“Maaf, Oma?” Dona mengangkat tangannya.

“Ya?” Oma menanggapinya kali ini.

“Oma lahir di tahun berapa?”

Sapu tangan yang dari tadi digenggam Oma masih tidak berfungsi sebagai apa-apa. Oma meletakkan perca persegi itu di sebelah kucing angora yang kini tertidur pulas di atas meja, dan memilih menyeka matanya yang berair menggunakan punggung tangannya yang keriput. Oma belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dona ketika ia beranjak tertatih dari kursi menuju kamarnya.

Lumayan lama kemudian, Oma keluar, tapi handycame kami telah kehabisan daya.

SELESAI

Respon
1. Bagaimana menurut kalian karakter Oma Ela dalam cerita ini?
2. Analogi apa yang coba disuguhkan oleh penulis dengan menggunakan 'handycame'?
3. Apa kesimpulan besar yang bisa kalian temukan?

Salam :)


Read more...
 
FIKSIKOLOGI © 2017