Flash Fiction TANGISAN LANGIT
Cerpen singkat oleh Izar Razhman
ilustration by google
.
Sebetulnya sudah lama sekali aku merindukan rumah,
meskipun kau tidak akan percaya jika kuberitahu wujudnya lebih buruk daripada
kolong jembatan ini.
.
Mentari jadi jarang sekali menyapa di bulan Juni.
Tak berlaku lagi pembagian bulan tentang kapan hujan akan turun.
.
Kuperhatikan langkah-langkah kecil para pejalan
kaki yang dengan lincahnya melewati kubangan-kubangan air di hampir tiap tiga
langkah sekali. Bukan karena sebuah pepatah “Jangan bercermin di air keruh”
melainkan sekali lagi ini bulan Juni yang aneh. Pada mentari yang mana lagi
mereka akan memamerkan sepatunya yang kinclong(?) Tapi para pelajar tetap
terlihat bersemangat menyambut tahun ajaran baru, pasti karena uang jajan
mereka naik level. Bukan rahasia lagi.
.
Bebas sekali ya hidup mereka. Lain denganku yang
tidak bisa ke mana-mana karena terjebak di sini. Rutinitasku hanya memerhatikan
mereka satu persatu yang melintas di jembatan tempatku berteduh sambil
menengadah. Tak jarang orang-orang memandangku risih. Lalu melempariku dengan
nasi bungkus yang lebih sering sisa atau sudah basi. Kadang juga beberapa helai
pakaian kumuh.
.
“Hei! Aku sedang berdo’a kepada Tuhan. Bukan
meminta belas kasih kalian!”
.
Kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya mereka
pelajari di sekolahnya? Seolah aku ini lebih hina dari rupa neraka. Kalau
memang tidak suka, seharusnya mereka mengusirku saja dari sini. Itu jauh lebih
mulia bagiku ketimbang berpura-pura baik dengan memberiku nasi busuk dan
gombal.
Allah. Adakah nanti yang tergerak
hatinya untuk tulus mengulurkan tangannya kepadaku? Ah! Bahkan Satpol PP pun
enggan. Aku tidak mau bermimpi lebih dengan berharap dijadikan saudara. Aku
sadar diri. Cita-citaku saat ini hanya ingin dipulangkan. Itu saja. Dari pada
nanti ketika tiba perayaan natal. Saat hujan tak lagi mau reda, meskipun
dianggapnya sebagai rejeki yang meruah. Namun bagaimana jika terlalu meruah?
Itu bukan lagi rejeki, tapi tangisan langit yang sedih melihat sikap manusia.
Lalu jalanan mereka menjelma jadi kolam-kolam tanpa ikan. Pohon-pohon peneduh
tumbang. Rumah-rumah mereka mendadak berubah seperti perahu kertas yang melaju
di aliran got. Kalau sudah begitu, mereka pasti akan menghujatku, “Kau penyebab
semua petaka ini!” Padahal sejujurnya aku lebih suka tidur di truk sampah dari
pada di bawah jembatan.
“Bukankah tangan-tangan kalian
sendiri yang menggiringku ke sini?"
END
Sila bubuhkan respon Anda di komentar :)
.

0 comments:
Post a Comment