Banner 468 x 60px

 

TANGISAN LANGIT (Flash Fiction)

0 comments

Flash Fiction TANGISAN LANGIT

Cerpen singkat oleh Izar Razhman

ilustration by google


.
Sebetulnya sudah lama sekali aku merindukan rumah, meskipun kau tidak akan percaya jika kuberitahu wujudnya lebih buruk daripada kolong jembatan ini.
.
Mentari jadi jarang sekali menyapa di bulan Juni. Tak berlaku lagi pembagian bulan tentang kapan hujan akan turun.
.
Kuperhatikan langkah-langkah kecil para pejalan kaki yang dengan lincahnya melewati kubangan-kubangan air di hampir tiap tiga langkah sekali. Bukan karena sebuah pepatah “Jangan bercermin di air keruh” melainkan sekali lagi ini bulan Juni yang aneh. Pada mentari yang mana lagi mereka akan memamerkan sepatunya yang kinclong(?) Tapi para pelajar tetap terlihat bersemangat menyambut tahun ajaran baru, pasti karena uang jajan mereka naik level. Bukan rahasia lagi.
.
Bebas sekali ya hidup mereka. Lain denganku yang tidak bisa ke mana-mana karena terjebak di sini. Rutinitasku hanya memerhatikan mereka satu persatu yang melintas di jembatan tempatku berteduh sambil menengadah. Tak jarang orang-orang memandangku risih. Lalu melempariku dengan nasi bungkus yang lebih sering sisa atau sudah basi. Kadang juga beberapa helai pakaian kumuh.
.
“Hei! Aku sedang berdo’a kepada Tuhan. Bukan meminta belas kasih kalian!”
.
Kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya mereka pelajari di sekolahnya? Seolah aku ini lebih hina dari rupa neraka. Kalau memang tidak suka, seharusnya mereka mengusirku saja dari sini. Itu jauh lebih mulia bagiku ketimbang berpura-pura baik dengan memberiku nasi busuk dan gombal.

Allah. Adakah nanti yang tergerak hatinya untuk tulus mengulurkan tangannya kepadaku? Ah! Bahkan Satpol PP pun enggan. Aku tidak mau bermimpi lebih dengan berharap dijadikan saudara. Aku sadar diri. Cita-citaku saat ini hanya ingin dipulangkan. Itu saja. Dari pada nanti ketika tiba perayaan natal. Saat hujan tak lagi mau reda, meskipun dianggapnya sebagai rejeki yang meruah. Namun bagaimana jika terlalu meruah? Itu bukan lagi rejeki, tapi tangisan langit yang sedih melihat sikap manusia. Lalu jalanan mereka menjelma jadi kolam-kolam tanpa ikan. Pohon-pohon peneduh tumbang. Rumah-rumah mereka mendadak berubah seperti perahu kertas yang melaju di aliran got. Kalau sudah begitu, mereka pasti akan menghujatku, “Kau penyebab semua petaka ini!” Padahal sejujurnya aku lebih suka tidur di truk sampah dari pada di bawah jembatan.
“Bukankah tangan-tangan kalian sendiri yang menggiringku ke sini?"

END

Sila bubuhkan respon Anda di komentar :) 
.


0 comments:

Post a Comment

 
FIKSIKOLOGI © 2017