Tamu Dari Langit
Hari ini Pak Lurah mantu.
Anak gadisnya yang bernama Ratih akan menikah dengan seorang pemuda dari
seberang desa yang juga dari kalangan terpandang. Seluruh warga kampung
diundang untuk turut serta menjadi saksi terikatnya dua insan, manjadi saksi
bahwa keluarga mereka benar-benar kaya, juga sebagai saksi bahwasanya dengan
memiliki besan seorang kaya-raya berarti kekayaan mereka akan berlipat ganda.
Setelah mengenakan
pakaian terbaik yang kumiliki—setelan batik jawa-timuran—, pagi-pagi sekali aku
sudah menyatroni kediaman Pak Lurah. Alih-alih turut bergotong-royong
mempersiapkan segala sesuatu, setelah sampai di sana, orang-orang sudah bejibun
menindaki pekerjaan mereka masing-masing, ada yang merapikan meja-kursi,
beberapa lagi menyiapkan hidangan dan minuman untuk disusun pada meja yang
tersedia. Tukang sound system terlihat menyelubungkan selembar besar
terpal untuk berjaga-jaga jika saja turun hujan. Penata pelaminan kembali
mengecek karya yang mereka desain, memastikan tidak ada bunga yang layu
sebelum waktunya. Beberapa Hansip juga telah berdiri sigap di tempatnya
masing-masing, mengingat sebentar lagi ratusan atau bahkan mungkin ribuan
undangan akan hadir memenuhi tempat itu.
Untuk beberapa saat aku
celingukan seperti orang bodoh karena tak mendapati kesibukan yang bisa
kukerjakan. Sebentar kemudian kulihat dua tukang sound system bersusah
payah menarik ujung terpal untuk dinaikkan di atasnya, maka naluri kesosialanku
segera bangkit. Aku menghampiri mereka dan membantu menutupi pengeras suara itu
dengan sempurna. Aku bernapas lega, setidaknya sekarang aku sudah pantas hadir
di sini dan layak mencicipi hidangannya.
Mendung datang bersama
dengan rombongan orang-orang yang hadir untuk menyaksikan dan mengucapkan
‘Selamat’ untuk sepasang mempelai paling bahagia di hari ini, seolah awan hitam
itu mengerti betapa mereka yang berbondong-bondong kemari tidak ingin parfumnya
bercampur dengan keringat yang akan menyebabkan aromanya berantakan.
Pengeras suara yang aku
tadi turut mengkerudunginya kini telah berdendang dengan bahagia tanpa was-was
kepalanya akan basah. Penerima tamu mulai terlihat lelah berjabat tangan hingga
tangan satunya mereka gunakan untuk menopang siku yang kini sukar diluruskan.
Para pelandang menjalankan tugasnya dengan langkah-langkah kecil dan cepat. Aku
masih duduk di bawah hasil-karya-kecil-ku untuk mengikiskan sedikit
keringat yang tersisa, di sebelah dua orang tukang sound system yang
kini sama-sama menyeruput secangkir kopi bersamaku. Kami berbincang sedikit
setelah saling melontarkan terima kasih.
Aku tidak yakin kalau
hujan pun turut ingin menyaksikan pesta perkawinan ini, tapi nyatanya mereka
benar-benar turun dan menyaksikannya, membuat sebagian undangan harus merelakan
kursinya untuk diduduki oleh rombongan tamu dari langit itu. Itu pun tidak semua,
sebagian lagi dengan suka rela duduk beralaskan rumput. Aku menghampiri
sepasang Tamu Dari Langit yang terlihat sedang menggendong hujan kecil. Tak
kupedulikan celana dan sepatuku yang berlumuran lumpur. Dengan selembar daun
pisang cukup lebar kunaungi mereka dan bertanya, “Berapa umurnya?” ibunya
menjawab, “Sekitar lima-belas detik.” Lalu aku katakan padanya sebaiknya pulang
saja, sebab mereka pasti akan kecewa jika mendapati wajah pengantin
perempuannya. Aku juga memberinya jatah bingkisanku untuknya agar segera mau
pulang. Lebih dari itu, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya.
***
Hari H. Pukul enam pagi.
“Kenapa bisa sampai ada
orang gila datang di pestaku?” Pak Lurah mencecar ketua Hansip sambil menuding
seseorang di kejauhan yang berpakaian compang-camping sedang duduk di bawah sound
system.
Yang ditanya hanya
menjawab, “Kan Pak Lurah sendiri yang mengundang segenap warga untuk hadir di
pesta Bapak. Tidak ada penjelasan kalau orang gila dilarang hadir, kan?”
Pak Lurah kemudian memutar
bola matanya setelah mendengus. “Pastikan dia tidak membuat ulah!”
Ketua hansip lantas
mendaratkan ujung telapak tangannya ke bagian pelipisnya, bersamaan dengan
dadanya yang dibusungkan sebelum akhirnya menuju dapur utama untuk mengambil
secerat kopi beserta tiga cangkir berukuran sedang yang ia berniat untuk menyuguhkannya
kepada tukang sound system.
“Silakan,” kata Ketua
Hansip itu sembari menaruh nampan kopi kepada dua orang paling bertanggung
jawab mengenai volume. “Ini untukmu,” ucapnya lagi kepada orang gila di sebelah
mereka. “Tetap duduk di sini dan jangan bikin onar. Oke?” Orang gila itu
menanggapi dengan menyembulkan jempolnya tinggi-tinggi.
Para undangan mulai
berdatangan ketika awan hitam tiba-tiba berarak di atas pelaminan. Sang pawang
hujan lantas beraksi dengan menyalakan segebok dupa yang ia tancapkan di
pelataran. Dengan gamitan mantra-mantra yang merembes dari bibir hitamnya
akhirnya satu dua hujan yang sempat turun diperingatkan oleh sang pawang hujan
agar mengajak teman-temannya segera pergi dari situ. Atau jika tidak, sang
pawang mengancam ujung dupanya itu akan menusuk mereka satu per satu.
***
Pagi itu kebetulan kami
sedang terbang rendah ketika mendapati segerombolan manusia berdesak-desakan
mengerubungi sebuah tempat yang dinaungi. Kupikir kemarau telah menyebabkan
kekacauan sehingga mereka harus antre untuk mendapatkan air. Maka kuutus
beberapa ajudanku untuk turun melihat apa yang terjadi. Jika memang benar
mereka butuh air, berarti kami harus segera terjun, tapi jika bukan, ya,
setidaknya kita tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sekitar dua-puluh-lima
prajurit kuturunkan untuk melihat situasi. Sekitar dua-puluh-lima detik pula
mereka baru kembali.
“Itu artinya
masing-masing dari kalian bekerja satu detik hanya untuk tugas semacam itu!”
“Maaf, seandainya Reon
dan Rein tidak keras kepala untuk turut turun mungkin kita hanya butuh nol
koma sekian detik untuk itu. Bayinya membuat kita harus terbang pelan.”
Rein mengalihkan
pembicaraan dengan berucap, “Aku bertemu dengan malaikat di bawah sana.”
Sebaliknya, beberapa lagi berkata, “Aku justru bertemu dengan makhluk bodoh
yang mengancam kami dengan api.”




