Banner 468 x 60px

 
0 comments

Tamu Dari Langit



Hari ini Pak Lurah mantu. Anak gadisnya yang bernama Ratih akan menikah dengan seorang pemuda dari seberang desa yang juga dari kalangan terpandang. Seluruh warga kampung diundang untuk turut serta menjadi saksi terikatnya dua insan, manjadi saksi bahwa keluarga mereka benar-benar kaya, juga sebagai saksi bahwasanya dengan memiliki besan seorang kaya-raya berarti kekayaan mereka akan berlipat ganda.

Setelah mengenakan pakaian terbaik yang kumiliki—setelan batik jawa-timuran—, pagi-pagi sekali aku sudah menyatroni kediaman Pak Lurah. Alih-alih turut bergotong-royong mempersiapkan segala sesuatu, setelah sampai di sana, orang-orang sudah bejibun menindaki pekerjaan mereka masing-masing, ada yang merapikan meja-kursi, beberapa lagi menyiapkan hidangan dan minuman untuk disusun pada meja yang tersedia. Tukang sound system terlihat menyelubungkan selembar besar terpal untuk berjaga-jaga jika saja turun hujan. Penata pelaminan kembali mengecek karya yang mereka desain, memastikan tidak ada bunga yang layu sebelum waktunya. Beberapa Hansip juga telah berdiri sigap di tempatnya masing-masing, mengingat sebentar lagi ratusan atau bahkan mungkin ribuan undangan akan hadir memenuhi tempat itu.

Untuk beberapa saat aku celingukan seperti orang bodoh karena tak mendapati kesibukan yang bisa kukerjakan. Sebentar kemudian kulihat dua tukang sound system bersusah payah menarik ujung terpal untuk dinaikkan di atasnya, maka naluri kesosialanku segera bangkit. Aku menghampiri mereka dan membantu menutupi pengeras suara itu dengan sempurna. Aku bernapas lega, setidaknya sekarang aku sudah pantas hadir di sini dan layak mencicipi hidangannya.

Mendung datang bersama dengan rombongan orang-orang yang hadir untuk menyaksikan dan mengucapkan ‘Selamat’ untuk sepasang mempelai paling bahagia di hari ini, seolah awan hitam itu mengerti betapa mereka yang berbondong-bondong kemari tidak ingin parfumnya bercampur dengan keringat yang akan menyebabkan aromanya berantakan.

Pengeras suara yang aku tadi turut mengkerudunginya kini telah berdendang dengan bahagia tanpa was-was kepalanya akan basah. Penerima tamu mulai terlihat lelah berjabat tangan hingga tangan satunya mereka gunakan untuk menopang siku yang kini sukar diluruskan. Para pelandang menjalankan tugasnya dengan langkah-langkah kecil dan cepat. Aku masih duduk di bawah hasil-karya-kecil-ku untuk mengikiskan sedikit keringat yang tersisa, di sebelah dua orang tukang sound system yang kini sama-sama menyeruput secangkir kopi bersamaku. Kami berbincang sedikit setelah saling melontarkan terima kasih.

Aku tidak yakin kalau hujan pun turut ingin menyaksikan pesta perkawinan ini, tapi nyatanya mereka benar-benar turun dan menyaksikannya, membuat sebagian undangan harus merelakan kursinya untuk diduduki oleh rombongan tamu dari langit itu. Itu pun tidak semua, sebagian lagi dengan suka rela duduk beralaskan rumput. Aku menghampiri sepasang Tamu Dari Langit yang terlihat sedang menggendong hujan kecil. Tak kupedulikan celana dan sepatuku yang berlumuran lumpur. Dengan selembar daun pisang cukup lebar kunaungi mereka dan bertanya, “Berapa umurnya?” ibunya menjawab, “Sekitar lima-belas detik.” Lalu aku katakan padanya sebaiknya pulang saja, sebab mereka pasti akan kecewa jika mendapati wajah pengantin perempuannya. Aku juga memberinya jatah bingkisanku untuknya agar segera mau pulang. Lebih dari itu, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya.

***
Hari H. Pukul enam pagi.

“Kenapa bisa sampai ada orang gila datang di pestaku?” Pak Lurah mencecar ketua Hansip sambil menuding seseorang di kejauhan yang berpakaian compang-camping sedang duduk di bawah sound system.

Yang ditanya hanya menjawab, “Kan Pak Lurah sendiri yang mengundang segenap warga untuk hadir di pesta Bapak. Tidak ada penjelasan kalau orang gila dilarang hadir, kan?”

Pak Lurah kemudian memutar bola matanya setelah mendengus. “Pastikan dia tidak membuat ulah!”

Ketua hansip lantas mendaratkan ujung telapak tangannya ke bagian pelipisnya, bersamaan dengan dadanya yang dibusungkan sebelum akhirnya menuju dapur utama untuk mengambil secerat kopi beserta tiga cangkir berukuran sedang yang ia berniat untuk menyuguhkannya kepada tukang sound system.

“Silakan,” kata Ketua Hansip itu sembari menaruh nampan kopi kepada dua orang paling bertanggung jawab mengenai volume. “Ini untukmu,” ucapnya lagi kepada orang gila di sebelah mereka. “Tetap duduk di sini dan jangan bikin onar. Oke?” Orang gila itu menanggapi dengan menyembulkan jempolnya tinggi-tinggi.

Para undangan mulai berdatangan ketika awan hitam tiba-tiba berarak di atas pelaminan. Sang pawang hujan lantas beraksi dengan menyalakan segebok dupa yang ia tancapkan di pelataran. Dengan gamitan mantra-mantra yang merembes dari bibir hitamnya akhirnya satu dua hujan yang sempat turun diperingatkan oleh sang pawang hujan agar mengajak teman-temannya segera pergi dari situ. Atau jika tidak, sang pawang mengancam ujung dupanya itu akan menusuk mereka satu per satu.

***
Pagi itu kebetulan kami sedang terbang rendah ketika mendapati segerombolan manusia berdesak-desakan mengerubungi sebuah tempat yang dinaungi. Kupikir kemarau telah menyebabkan kekacauan sehingga mereka harus antre untuk mendapatkan air. Maka kuutus beberapa ajudanku untuk turun melihat apa yang terjadi. Jika memang benar mereka butuh air, berarti kami harus segera terjun, tapi jika bukan, ya, setidaknya kita tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sekitar dua-puluh-lima prajurit kuturunkan untuk melihat situasi. Sekitar dua-puluh-lima detik pula mereka baru kembali.

“Itu artinya masing-masing dari kalian bekerja satu detik hanya untuk tugas semacam itu!”

“Maaf, seandainya Reon dan Rein tidak keras kepala untuk turut turun mungkin kita hanya butuh nol koma sekian detik untuk itu. Bayinya membuat kita harus terbang pelan.”

Rein mengalihkan pembicaraan dengan berucap, “Aku bertemu dengan malaikat di bawah sana.” Sebaliknya, beberapa lagi berkata, “Aku justru bertemu dengan makhluk bodoh yang mengancam kami dengan api.”

Read more...

KUBAH-KUBAH DI DADA MEREKA

0 comments
Kubah-Kubah di Dada Mereka
Oleh: Izar Razhman

Nun,
Sejenak hilang
sejenak tayang
;kiswah perak keemasan
sekarat terbuang
gentayang

zirah putih pendar aura
kala waskita lucuti perca
tampak salib di antara kubahnya
merah nyata

gugur, daun menganggur
runtuh, tiang terapuh
tersungkur
jatuh

Dunia mereka berbeda ;maya
Dunia kalian ;genting dalam penjara
Duniaku ;satu sel pun tak tahu
Dunia kita ;berkeping tanpa satu

Lalu kubah bersilam
Tuhan enyah dari semayam
dipaksa simpan dalam botolbotol kusam
iman pucat masam

Goa-goa kumuh jelma surau
desah ah-ih-uh terdengar parau
undang jemaah
berjamah

bedug tak lagi ada
ngiang denting kaca yang nyata
tajam tanduk koyak sekat
hati dan hati; sekarat.


(Dokument)
Surabaya, 24 September 2016


Read more...

IMANUNA

0 comments
Imanuna
Oleh: Izar Razhman



Alif
Bumi tak lagi bayi
petaka nyata ;bukti ia t’lah renta
pohon, gunung, laut mati
amat tamak ‘tuk bertanya mengapa?

Mim
Gugur lalu subur
siklus bumi mendaur

jatuh lantas tumbuh
ganjar atas simpuh

sedih berujung asih
jajak tanpa pamrih

duka cermin suka
refleksi buah karma

mati jelang abadi
janji Illahi

Nun
Kalla saya’lamuun
membatu besar biji kepala
menganak Eka tumbuh laksa
Tsumma kalla saya’lamuun
andai iman berbentuk kafan
malu hati tertanggalkan

Pada tiang yang mana lagi tangan menggenggam?
;pohon abadi raib terajam
Pada tanah yang mana lagi kening bersungkur?
;alas suci ‘anggur terpengkur
Angin
Bulan
Matahari
;tak sudi lagi

maka usah hirau sepi
jika riuh undang nyeri
pagar hijaiyah bukan penjara
sebatas sekat lindung bala

Tunduk tawadlu’ pasrah wasilah ;Yaumuddiin
pejam khusyu’ Khusnul khatimah ; Fii Akhariin
Bismillah. Aamiin.


Surabaya, 25 September 2016
Read more...

SIMBOL

3 comments

SIMBOL

"Cerpen Mind Blowing"


Ilustrasi by google

Aku akan tetap duduk di sini sampai ada seseorang yang bertanya padaku ‘Apa yang kau lakukan di sini?’, sambil kupikirkan jawaban terbaik untuk pertanyaan itu.

Ini malam yang anggun. Lampu-lampu jalan menyala serentak selepas matahari pamit untuk menyusui senja. Di tambah satu fakta besar lagi, ini sabtu malam. Aku memilih duduk di bawah tiang lampu paling ujung, tepat di sudut tikungan yang membatasi sebuah taman kota, di luar pagar besi—yang kalian bisa dengan mudah memanjatnya jika berniat.

Kuanggap saja pangkal tiang lampu itu adalah kursi kelab malam nyaman seperti yang kerap kupantati dulu. Memesan bir paling mahal sampai kelenger, lalu berfantasi dengan apapun yang ingin kurengkuh. Meski tidak begitu kenyataannya sekarang.

Aku duduk menghadap ke taman yang dipenuhi dengan wahana permainan bocah—Kuda-kudaan matrealis yang tidak akan mau berbuat apa-apa jika tidak dijejali koin, perosotan dengan ketinggian sedang yang tidak menyebabkan patah tulang meski tersungkur dari puncaknya, juga ada ayunan berderet di sepanjang sisi—lengkap dengan simbol ilustrasi siluet wajah sepasang kekasih sedang berciuman yang dicoret dengan segaris warna merah. Sekalipun begitu, ada saja bocah-bocah berkumis yang tanpa malu menikmati wahana tersebut.

Di belakangku, sebuah jalan berbatako kian ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang seiring malam. Sebagian di antaranya tanpa segan memarkir kendaraannya pada bahu jalan yang meski jelas tertera huruf ‘P dipalang’ di sana.

Seorang bocah usia lima tahunan yang baru saja turun dari dalam mobil bersama orang tuanya, menunjuk tanda yang berarti ‘Dilarang Parkir’ itu. “P,” fasih bocah itu mengeja, sambil menunjukkan gestur seolah ingin dipuji. Kutebak bocah itu meniru ekspresi ibunya ketika berdandan di depan cermin saat hendak pergi ke kondangan yang tidak biasa. Bapaknya mengelus rambut bocah itu sebelum menjawab, “Ya. P.” Kemudian ketiga bibir keluarga yang sepertinya bahagia itu tampak saling menyungging satu sama lain.

Ketika keluarga kecil—yang sepertinya bahagia—itu hendak melangkah kemudian, entah mengapa aku spontan menyahut, “Bukan P. Kau harus tahu maknanya.” Kutujukan kalimat itu kepada gadis kecil yang kini berada di gendongan bapaknya. Tapi aku sendiri tidak bisa menjamin kalau orang tuanya tidak tersinggung dengan ucapanku. Barangkali perangai ini mendapatkan kesan seorang gelandangan yang sok tahu. Lantas kulemparkan pandangan sejauh mungkin sebelum mereka menatapku lebih tajam. Berpura-pura seolah mata ini tidak sedang memerhatikan mereka.

Beberapa detik kemudian kukembalikan posisi mataku ke keadaan semula. Kini yang tampak dari keluarga yang sepertinya bahagia itu tak lebih hanya tiga bidang punggung berukuran M, L dan XL. Langkahnya berayun mantap melewati lapak-lapak khusus pedagang kaki lima yang berjejer di sisi seberang. Mereka menuju ke sebuah restoran mewah di samping bioskop. Agaknya aroma soto, bakso, rendang, penyet, lodeh adalah sesuatu yang mengganggu hidung mereka.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Akhirnya kudengar suara itu. Tadinya kukira menunggu pertanyaan tersebut sama susahnya dengan menanyakan ‘adakah seorang dewasa yang tidak pernah merasakan kesetrum?’.

Aku menoleh, dan mendapati seorang perempuan muda sedang melabrak seekor lelaki yang duduk berdampingan dengan perempuan lain. Memerhatikan pertengkaran mereka dari jarak yang sangat dekat sama halnya seperti menonton bioskop telenovela tiga dimensi—Dulu aku kerap melakukan itu ketika istriku memaksa. Dulu, sebelum ku-vonis bahwa malam adalah siang, sebelum kumis dan jenggotku seputih dan seawut-awutan sekarang, sebelum aku gila, sebelum istriku mengemudikan mobilnya dengan laju untuk janji temu dengan tuhannya.

Kalimat itu meluncur kembali dari bibir merekah milik si perempuan tadi dengan telunjuk yang menusuk-nusuk dada lelakinya. Sedang perempuan satunya hanya memilih bisu. Lalu kusimpulkan bahwa kalimat yang tadi itu sama sekali tidak ditujukan padaku. Di akhir pertunjukan, lelaki itu menangis. Aku hampir turut menangis—menangisi perempuan itu seandainya dia terperdaya.

Seperti ketika aku berada di dalam bioskop dengan suguhan adegan yang melankolis, yang kerap hanya berujung bosan. Kalau sudah begitu aku memilih beralasan kepada istriku bahwa aku sedang sakit perut, lantas pergi ke toilet sambil menyulut berbatang-batang rokok hingga kuduga telah menginjak menit-menit akhir. Lebih-lebih menyaksikan segmen pertengkaran dramatis di tempat umum kian membuatku jelak. Maka kuputuskan pindah ke sudut yang lain, di bawah pohon beringin yang tidak terlalu seram. Ada kursi kayu melingkari pohon itu. Aku duduk di bawahnya. Menggunakan kaki kursinya sebagai sandaran.

Seorang lelaki gegas menghampiri. Seandainya aku pedagang asongan, pastilah aku akan bersyukur. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam yang dilonggarkan. Sebuah jas berwarna gelap tersampir begitu saja di pundaknya. “Mau bir?” tawarnya. Begitu hendak kuraih botol yang ia suguhkan, dia kembali merapatkan minumannya ke dada. Lalu berbicara panjang lebar dengan sesekali jeda hanya untuk menarik napas, tertawa, atau meneguk minuman yang urung ia tawarkan padaku.

“Enyahlah!” kataku berseringai.

Pria tadi lantas pergi dengan tetap mengoceh—mungkin—dengan makhluk halus yang ada di dalam botol minumannya. Aku memandangi punggungnya cukup lama hingga warna putih kemejanya lenyap ditelan gelap.

Sesaat aku merasa seperti ..., daun gugur yang baru saja mengenai kepalaku. Tak ada yang peduli sekalipun untuk sekadar bertanya ‘Apa yang kau lakukan di sini?’

“Hei, apa yang kau ...”
Seorang satpam terhuyung menghampiriku. Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah benturan keras terdengar dari kejauhan. Satpam penjaga taman itu berlari menuju sumber suara. Aku membuntutinya.

Kecelakaan.

Mobil sedan hitam mengkilat penyok menghantam tiang lampu yang tadi kududuki. Seorang perempuan terkulai di balik kemudi. Satpam tadi dibantu segerombolan orang mencoba mengeluarkannya. Tubuh perempuan itu terjepit. Aku turut membantu, menyelinap di sebelah satpam tadi sambil menyumbangkan tenaga meregangkan besi mobil yang terasa panas.

“Maaf,” kataku kepada Si Satpam. Aku berusaha mencari momen di sela-sela kepanikan. “Anda tadi ingin mengatakan apa padaku?”

“Yang mana?—,“ wajahnya tetap mencemaskan seorang perempuan yang terkulai di balik kemudi. Semua mencemaskannya. “—tarik lagi!” katanya memberi aba-aba kepada yang lain agar meregangkan body mobil yang ringsek.

“Tadi, ketika Anda menghampiriku di bawah pohon sana,” kataku dengan menunjuk sebuah tempat di kejauhan hanya dengan gerakan kepala. “Anda bilang; ‘Apa yang kau’, Lalu?”

“Coba lagi!” Dia menggunakan sebuah linggis untuk menarik sisi besi yang bengkok “Kau bicara apa?” matanya menyiratkan kemarahan ke arahku.

“Aku hanya mau bertanya apakah ...”

“Keparat kau!” linggis itu diacungkan ke wajahku. “Kau membicarakan hal tak penting sedangkan ada seseorang sedang sekarat di sini? Hah?” Orang-orang mulai memandangku geram. Kuputuskan untuk diam.

Setelah perempuan itu berhasil dikeluarkan, aku baru tersadar jika dia adalah perempuan yang tadi menyemburkan lahar sumpah serapah ketika memergoki kekasihnya bertanda-petik dengan perempuan lain. Orang-orang tampak mengembangkan dada, lega. Kata salah seorang yang bergumam, perempuan itu sengaja bunuh diri. Sabuk pengamannya sengaja tidak dikenakan, sebuah test pack, juga ada pil anti depresan bertaburan di mobilnya.

Sudah pukul sebelas malam ketika aku mencuci tangan di air mancur bergoyang di tengah-tengah taman. Tiba-tiba bayangan sebentuk wajah muncul di permukaan airnya. Aku menjamah wajah itu, spontan rautnya berkerut dan bergelambir. Lalu aku tahu ke arah mana harus menghadap. Bocah perempuan dari keluarga yang sepertinya bahagia tadi menghampiriku, sendirian. “Apa yang kau lakukan di sini?” bisiknya.

Oh. Kenapa harus bocah yang menanyakan hal itu?
Istriku pernah berkata, “Berdirilah di keasingan dan tunggu hingga ada seseorang yang benar-benar memerhatikanmu. Maka kau akan tahu apa yang kurasakan.” Saat itu menjelang sore. Aku menolak ajakannya untuk menonton film di bioskop. Maka dia menangis dengan banyak sekali kata ‘seandainya’.

“Apa yang kau lakukan di sini?”  Bocah itu kembali berbisik. Menarik kemaja putihku hingga aku harus membungkuk untuk mendengarkan ucapan selanjutnya, “Aku tahu.” Napasnya beraroma lopster panggang.

“Tidak ada. Hanya mengenang—.” Improvisasi. Kusuguhkan senyum ke wajah bocah itu. “—mengenang kebodohan.” Kupastikan dia tidak mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan.

Namanya Lolita, dia sempat melambai sambil menegaskan, “P!” Telunjuknya mengacung. “Jangan melanggar!”  sebelum ia berlari kembali menuju ke orangtuanya.

***
Malam yang kesekian ribu. Malam yang tak pernah berubah. Malam dengan topeng yang selalu sama, dengan pertanyaan yang tak pernah kumiliki jawabannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

SELESAI.
Read more...

TANGISAN LANGIT (Flash Fiction)

0 comments

Flash Fiction TANGISAN LANGIT

Cerpen singkat oleh Izar Razhman

ilustration by google


.
Sebetulnya sudah lama sekali aku merindukan rumah, meskipun kau tidak akan percaya jika kuberitahu wujudnya lebih buruk daripada kolong jembatan ini.
.
Mentari jadi jarang sekali menyapa di bulan Juni. Tak berlaku lagi pembagian bulan tentang kapan hujan akan turun.
.
Kuperhatikan langkah-langkah kecil para pejalan kaki yang dengan lincahnya melewati kubangan-kubangan air di hampir tiap tiga langkah sekali. Bukan karena sebuah pepatah “Jangan bercermin di air keruh” melainkan sekali lagi ini bulan Juni yang aneh. Pada mentari yang mana lagi mereka akan memamerkan sepatunya yang kinclong(?) Tapi para pelajar tetap terlihat bersemangat menyambut tahun ajaran baru, pasti karena uang jajan mereka naik level. Bukan rahasia lagi.
.
Bebas sekali ya hidup mereka. Lain denganku yang tidak bisa ke mana-mana karena terjebak di sini. Rutinitasku hanya memerhatikan mereka satu persatu yang melintas di jembatan tempatku berteduh sambil menengadah. Tak jarang orang-orang memandangku risih. Lalu melempariku dengan nasi bungkus yang lebih sering sisa atau sudah basi. Kadang juga beberapa helai pakaian kumuh.
.
“Hei! Aku sedang berdo’a kepada Tuhan. Bukan meminta belas kasih kalian!”
.
Kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya mereka pelajari di sekolahnya? Seolah aku ini lebih hina dari rupa neraka. Kalau memang tidak suka, seharusnya mereka mengusirku saja dari sini. Itu jauh lebih mulia bagiku ketimbang berpura-pura baik dengan memberiku nasi busuk dan gombal.

Allah. Adakah nanti yang tergerak hatinya untuk tulus mengulurkan tangannya kepadaku? Ah! Bahkan Satpol PP pun enggan. Aku tidak mau bermimpi lebih dengan berharap dijadikan saudara. Aku sadar diri. Cita-citaku saat ini hanya ingin dipulangkan. Itu saja. Dari pada nanti ketika tiba perayaan natal. Saat hujan tak lagi mau reda, meskipun dianggapnya sebagai rejeki yang meruah. Namun bagaimana jika terlalu meruah? Itu bukan lagi rejeki, tapi tangisan langit yang sedih melihat sikap manusia. Lalu jalanan mereka menjelma jadi kolam-kolam tanpa ikan. Pohon-pohon peneduh tumbang. Rumah-rumah mereka mendadak berubah seperti perahu kertas yang melaju di aliran got. Kalau sudah begitu, mereka pasti akan menghujatku, “Kau penyebab semua petaka ini!” Padahal sejujurnya aku lebih suka tidur di truk sampah dari pada di bawah jembatan.
“Bukankah tangan-tangan kalian sendiri yang menggiringku ke sini?"

END

Sila bubuhkan respon Anda di komentar :) 
.


Read more...

ILUSI Cerpen FF oleh Izar Razhman

1 comments

ILUSI

Cerpen FF oleh Izar Razhman


ilustrasi by google



Jangan membayangkan apapun
Jangan perhatikan dinding warna hitam atau putih
Jangan memikirkan ruang makan yang kosong
Jangan melihat lantai yang basah juga genting yang retak
Jangan pedulikan gula yang berceceran di meja
Jangan mengalihkan perhatian ke kartu-kartu yang berserakan.
Jangan fokus pada satu kartu yang terbuka.
Dan jangan sekali-kali coba untuk masuk ke sana.
Semut, tikus dan sesuatu yang tidak terlalu jelas yang kau lihat di sudut ruang itu tidak nyata. Lagipula kita tidak akan bisa mengatasi semua kekacauan ini hanya dengan berilusi.

Aku tahu, katamu.

Tapi kenapa kamu bisa melihat bayangan yang memantul dari genangan air di lantai?
Kenapa kamu begitu yakin bahwa baru saja telah terjadi hujan?
Kenapa kamu menafsirkan bahwa tempat itu terlalu kumuh?
Apa kamu membayangkan semua itu?

Tidak!

Apa kamu memikirkan semuanya?

Tidak!

Menurutmu apakah beberapa bulir gula itu berhasil dicuri sekawanan semut?

Aku tidak tahu. Mungkin saja.

Katamu kau tidak memikirkannya?

Bagaimana aku tidak memikirkannya jika kamu terus saja mengocehkan hal itu.

Baiklah, aku akan diam.

Bagus.

Tapi semua kekacauan ini tidak akan lerai hanya dengan berdiam.

Terserah kau saja lah.

Kau mau ke mana?

Aku butuh berendam.

Boleh aku ikut?

Semua kekacauan ini juga tidak akan lerai hanya dengan berendam.

Aku menyesal sudah mengatakan itu.

Bagian yang mana? ‘Semua kekacauan ini tidak akan lerai hanya dengan berdiam’? suramu memantul-mantul di dalam kamar mandi.

Bukan. Tapi yang menyebabkan semua kekacauan ini.

Bukan salahmu.

Salah siapa lagi? Kau mau mempertaruhkan perasaanmu untukku?

Tidak ada yang salah.

Kau memakai levender body soap, Sayang?

Bagaimana kau tahu?

Aromanya.

Penciumanmu cukup tajam.

Penglihatanku lebih tajam.

Kau berbalik, mengemasi busa yang memenuhi kepala, wajah dan tubuhmu. Lalu terhenyak mendapati pintu yang lupa seharusnya kau apakan. Lalu mengumpat; Sialan. Kau melihatnya?

Dengan detil.

Kau gila.

Tidak ada yang lebih gila menandingi siapapun yang memercayai keberadaan kita.

Kau tertawa dan berkata; kau benar.

Menurutmu bagaimana ekspresi mereka seandainya tahu kalau kita tidak ada.

Dia akan marah padamu.

Pada kita?

Tidak. Hanya kepadamu.

Kalau itu yang terjadi. Aku akan marah kepadanya.

Siapa?

Yang menciptakan kita.

Tuhan?

Mungkin.

Kau tertawa lagi. Lebih renyah dari sebelumnhya.

Sayang?

Ya?

Aku berubah pikiran.

Tentang?

Aku ingin masuk ke sana.

Ke mana? Kepalamu kau longokkan sebagian.

Ke ruang makan kita yang sudah berabad-abad tidak kita sambangi.

Mau apa?

Hanya melihat-lihat.

Kau serius hanya ingin melihat-lihat? Kau bahkan melarangku untuk membayangkannya.

Tapi pada akhirnya kau membayangkannya juga, kan?

Karena otak kita di-stel untuk tidak menerima ‘larangan’.

Tidak selalu benar.

Bisa kaubuktikan?

Bagaimana jika aku melarangmu membayangkan kata ‘JANGAN’? apa yang ada di kepalamu sekarang?

Tentu saja kata ‘JANGAN’.

Nah.
Aku bisa menunggumu sampai kau selesai mandi jika kamu mau.

***

Persis seperti yang kau-katakan, Sayang, katamu.

Maksudmu persis seperti yang kularang?

Itu dia maksudku. Lihat. Tanganmu menunjuk sesuatu di atas meja. Gula. Sebuah wadah menggelempang dengan tutup yang tergeletak di sebelahnya.

Apa sebelumnya kau juga membayangkan bahwa meja ini berwarna cokelat tua atau lebih cenderung hitam?

Persis.

Awas kakimu, kataku mengingatkan. Kau tentu tidak ingin meninggalkan jejak basah di sini, bukan?

Tidak mungkin bisa.

Bagaimana kau tahu?

Ya. Sekalipun aku meninggalkan jejak basah di sini, mustahil akan terlihat. Sebab ruangan ini terlalu gelap untuk menerangi lantai. Lagipula alam bawah sadar kita hanya merekam sesuatu yang diinformasikan.

Benar. Itu. Kutunjuk sebuah genting yang retak. Dari celah retakannya itu menerobos sebuah cahaya tipis dan samar. kau membayangkannya juga?

Iya.

Menurutmu cahaya itu berasal dari apa?

Rembulan. Eh, bukan. Lampu mungkin, tapi ...

Nah, sekarang kau kebingungan. Karena dalam pendefinisianmu sebelumnya kau membayangkan bahwa telah terjadi hujan. Jadi tidak mungkin ada rembulan di atas sana. Kau bahkan tidak membayangkan bahwa  di atas ruangan ini  ada ruangan lain, kan? Jadi mustahil ada lampu di atas sana.

Lalu cahaya ini dari mana?

Dari pikiranmu sendiri.

Wow. Seandainya kamu mensugestiku sebuah rembulan di atap ini?

Itulah. Apapun bisa terwujud dengan sugesti.

Tapi tentu hanya sebatas khayalan, kan?

Bukan. Bahkan bisa benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

Benarkah?

Nanti kubuktikan.

Kepalamu mengangguk, memaksa dirimu sendiri untuk percaya.
Kenapa aku tidak melihat satu hewan pun di tempat kumuh seperti ini?

Karena aku hanya mensugestikan semut dan tikus.

Lalu di mana mereka? Semut dan tikus itu?

Tidak akan hadir.

Kenapa?

Karena dalam fase tersebut, kau tidak terlalu memercayai kehadirannya.

Seperti itu kah?

Ya. Coba lihat di sana. Kutunjuk sebuah sudut ruang. Apa yang kau lihat?

Tidak jelas.

Tepat sekali. Aku tidak memberimu kesempatan untuk memvisualisasikan benda apa yang ada di sana, sekalipun ketika kau membayangkan tempat ini ada sesuatu yang terlintas di sana. Mungkin terlihat seperti sebuah lemari kecil di telan kegelapan. Lalu dinding-dinding ini yang bercorak muram dan tidak jelas, itu karena aku mencampurkan antara hitam dan putih.  Tapi dua warna itu berhasil mengacaukan pikiranmu sehingga bahkan tidak menghadirkan warna abu-abu.

Ini luar biasa.

Well. Di mana kau membayangkan sebuah kartu?

Itu. Tepat di sana.

Hanya ada satu kartu yang terbuka. Warna apa yang ada di pikiranmu saat itu?

Merah.

Bagus.

Kau menemukan sebuah angka atau huruf?

Angka.

Genap atau ganjil?

Ganjil.

Perfect.

Bisa kau sebutkan sebelum kita membuktikannya?

Tujuh-merah hati.

Baiklah, mari kita lihat.

Langkahmu cemas. Aku bisa membacanya dari pelannya kau menjejakkan langkah.

Wow!

Apa kau berhasil?

Kau yang berhasil, Sialan.

Tidak. Kau yang berhasil. Aku bahkan tidak tahu kartu apa yang terbuka.

Kau tidak tahu?

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu. Tapi sekarang aku tahu.

Katakan kalau sebenarnya kau sudah mengetahuinya sejak awal.

Sama sekali tidak. Aku mendapatkan jawaban itu darimu sendiri.

Oh ya?

Tepat ketika kau bilang ‘Wow’, aku baru menyadari kalau aku berhasil menguasaimu.

Menguasaiku?

Menguasai alam bawah sadarmu.

Baiklah. Kuanggap semua pengaruhmu telah berhasil. Tidak ada klue lagi di sini?

Masih ada satu.

Apa?

Apa sekarang kau sadar telah berbincang denganku?

Tentu saja. Maksudmu?

Apa kau sadar jika ini nyata?

Tidak sama sekali. Aku ingin segera keluar.

Sayangnya tidak bisa.

Apa katamu?

Kita sudah terpenjara di ruangan ini. Kau pikir di luar ruangan ini ada apa?

Aku tidak bisa membayangkannya.

Jelas! Karena memang tidak akan ada apa-apa. Ketika kau berusaha melangkah keluar ...  Ah, bagaimana mungkin kau akan keluar bahkan kau tidak membayangkan ada jendela di ruangan ini, bukan?

Lalu di mana pintunya?

Tidak ada pintu. Dalam pandanganmu saat ini. Ruangan ini hanya terbentuk dari tiga sisi dinding yang rapat.

Tapi ruangan ini tidak membentuk segitiga.

Ya. Kau hanya bisa melihat tiga sisi—kiri, depan dan kanan. Sedang satu sisinya lagi adalah terhalang oleh posisimu sendiri. Dan bagaimana mungkin kau akan menerobos dirimu sendiri? Inilah kenyataannya. Semakin kau memberontak pada dirimu sendiri, semakin dalam kau akan berada di dalamnya.

Lalu?

Terimalah. Kehidupan ini adalah ilusi tak berbatas.


END(?)

Silakan respon di kolom komentar.




Read more...
 
FIKSIKOLOGI © 2017