Cerpen Izar Razhman "TOLE"
ilustrasi gambar by google
Sejak adegan terakhir pada film kartun yang dia tonton di rumah
temannya tadi, Tole sudah menahan haru pada dirinya sendiri. Film animasi itu
memang benar-benar membuat penasaran setiap episodenya. Hingga ketika kakinya
baru melangkahi pintu rumah, selaput penahan air matanya seketika saja dipecahkan.
“Mak, aku pengen punya tipi,” rajuk Tole dengan sekonyong-konyong.
Napasnya terengah-engah karena pasti lelah berlari saat melewati tanah kosong
di sepanjang jalan yang minim penerangan. Bibirnya dimanyunkan, wajahnya pun
dibuat semelas tuna wisma. Emaknya yang saat itu sedang sibuk memisahkan
lingkaran obat nyamuk yang masih saling terkait tidak langsung menjawab.
Membuat Tole mengulangi perkataannya. Kali ini bekas bungkus kok yang selalu ia
gunakan bermain teropong-teropongan bersama temannya ia gunakan sebagai
cerobong alternatif di mulutnya. “Maaak ...” Kedua sisi pundak Emak seketika
terjinjit tanpa aba-aba, membuat lingkaran obat nyamuk di tangan Emak patah.
“Ng... Ngapunten.” Segera Tole meminta maaf atas
kelancangannya setelah mendapati sepasang mata Emak terlihat lebih bulat dari
sebelumnya.
“Korek apinya mana? Tadi habis kamu pakai mainan!” tanya Emak
setengah mengomel, tanpa peduli dengan apa yang baru saja anaknya orasikan.
“Ini.” Dikeluarkannya korek api dari dalam buntalan sarung Tole yang
menggunduk di bagian perut, lantas menjulurkan ke arah Emak.
“Kalau habis dipakai itu mbokya dibalikin ke tempatnya lagi,”
renyah Emak menghardik setelah merebut korek api yang di ujung bawahnya
terdapat senter mini itu.
Tole masih mempertahankan kemanyunan bibirnya sedari tadi.
“Kalau gak ada korek itu, aku gak bisa pulang, Mak.”
Cepat sekali, Emak memalingkan wajahnya dari ujung obat nyamuk yang
baru saja disulutnya dengan korek api. Segesit nyamuk yang lari ketakutan, mata
Emak terbirit-birit ke arah wajah Tole yang digeletakkan begitu saja di atas
meja.
“Kalau takut ya gak usah nonton tipi!” Meja digebrak.
Malam itu, kalimat terakhir yang keluar dari mulut Emaknya telah
menjelma jadi nyanyian pengantar tidur bagi Tole. Senandung itu seolah musik
yang tanpa sengaja tertekan tombol repeat sehingga tak henti-hentinya
melantun di kepalanya, lengkap dengan video klip tanggul ambrol yang membanjiri
desa pipi pualam, hingga ia pulas.
Pagi harinya, tidak banyak yang mereka bincangkan. Mata Tole masih
sembab sisa kejadian semalam dan Emaknya diam-diam juga masih menyimpan rasa
bersalah yang dalam.
“Tidak usah, jatah uang jajanku Emak masukkan saja ke celengan
bambu untuk beli tipi,” kata Tole nyaris tanpa ekspresi. Ia menolak pecahan
uang lima ratus rupiah sebanyak empat koin dari tangan Emaknya.
“Assalamualaikum,” pamitnya kemudian setelah mengecup tangan Emak
yang masih mengepal—mungkin--satu-satunya harta yang ia miliki di pagi ini.
Sepatu pantofel peninggalan bapaknya menuntun langkah Tole ke
sekolah. Meski kedodoran, sekalipun ujung dalamnya sudah dijejali dengan
buntalan koran bekas. Tapi Tole tetap merasa nyaman dengan satu-satunya warisan
dari bapaknya yang masih bisa ia pakai itu. Daripada harus lelah push up sepuluh
kali, pikirnya.
Sedang emaknya mendadak jadi janda ayu yang bisu. Serupa patung,
patung dengan air mancur yang mengalir dari kedua belah mata sayu. Tapi tentu
yang baru saja terjadi itu bukanlah sebuah kutukan. Janda yang seharusnya
beranak dua—seandainya saudara kembar Tole tidak meninggal—itu kembali menjadi
manusia utuh. Patung di tubuhnya seketika sirna ketika ia sadar bahwa matahari
sudah berhasil memanjat dinding bumi, kecuali air mancurnya.
Di sebelah kiri rumahnya adalah ladang jagung. Sebelah kanan ada
kali yang jika arusnya terus diikuti, akan menuju pada air terjun yang tercipta
karena patahan sebuah tebing yang disebabkan bencana tanah longsor sekitar
sewindu lalu. Sedang di depan rumahnya—setelah halaman dan pagar—adalah jalanan
tidak terlalu lebar yang menuju ke rumah-rumah penduduk lain. Meski jaraknya
tidak saling berdekatan. Lalu di seberang jalan tersebut—lima puluh meter ke
sebelah kiri—terdapat sebuah surau tua yang mana di sanalah biasanya Tole dan
teman-temannya mengaji. Bangunan tua itu
dikelilingi oleh rerimbun pohon jati, mahoni dan semacamnya. Di sanalah
biasanya emak memunguti dahan dan ranting rapuh untuk dijadikan sebagai bahan
bakar memasak. Kadang jika beruntung, emak bisa saja menemukan telur puyuh yang
mungkin induknya telah ditembak mati oleh pemburu amatiran. Atau bahkan memang
sengaja ditinggalkan oleh induknya. Sebab apa? Siapa yang tahu. Mungkin saja
karena kebanyakan nonton televisi, batin Emak menggerutu.
Butuh perjuangan yang tidak mudah untuk bisa menyalakan
ranting-ranting pohon yang belum kering benar, meski sudah diakali dengan
menjejalkan dedaun jati kering. Perempuan yang suaminya mati karena radang
paru-paru yang diderita sejak lama itu meniup-niup tungku tanah liat menggunakan
cerobong kecil yang terbuat dari potongan batang bambu. Sekilas memang terlihat
mudah, tapi jika salah prosedur, apinya hanya akan melahap habis dedaunannya
tanpa berhasil menyulut ranting. Tapi keahlian Emak Tole, haram untuk
diragukan, meski napasnya harus tersengal-sengal terlebih dahulu. Seperti
jelang siang ini, hingga matahari telah bersolek menor di balai langit, si Emak
baru selesai memasak. Hanya gara-gara semalam gerimis.
“Masak apa, Mak? Baunya sedap.”
Emak tergelagap dengan kepulangan Tole. Sadar, sepanjang pagi tadi
waktunya habis untuk bermain-main dengan api. Selangkah kaki Tole kemudian,
Emak menghadang.
“Lupa dengan yang diajarkan Emak setiap hari?” nada bicaranya
terdengar culas.
Tole yang masih menenteng sepatu pantofelnya—inisiatif agar tidak
cepat rusak—segera mengoreksi diri.
“Iya. Assalamualaikum.”
Baru setelah itu bara di wajah emaknya padam. Lalu menjawab,
“Waalaikum salam.” Sembari mempersembahkan punggung tangan kanannya tepat di
ujung hidung anaknya.
Bungkus kok di tangan kanan Tole segera dilempar hingga tersungkur jauh
di bawah kolong. Kemudian gegas ia menghirup punggung tangan kanan emaknya yang
jelas masih beraroma bawang bercampur asap.
“Telur puyuh kesukaanmu, Le.” Bibir emak disunggingkan. Cara yang
cerdas untuk mengembalikan suasana harmonis. Tapi Tole justru membanting
napasnya keras-keras ke udara.
“Bosen, Mak,” katanya malas.
Emak sontak meletakkan dua porsi makanan dengan kasar ke atas meja.
“Akhir-akhir ini kamu sering ngeluh, Le!”
Wajah emak kini berada sangat dekat dengan hidung anaknya. Penuh
selidik.
Tole memundurkan wajah beberapa senti saja tanpa sedikitpun
menyinggung napas emaknya. Parasnya keruh dan tertunduk.
“Coba aku seperti Doraemon, pengen apa-apa tinggal ambil dari dalam
kantong ajaib.”
Kini Emak berdiri
lebih sigap. Lantas menggulung kedua lengan dasternya sampai di atas siku.
“Ini semua pasti gara-gara tipi!”
Meja digebrak oleh sebelah tangan emak yang sebetulnya tidak
terlalu kekar, tapi hentakan yang dihasilkan cukup membuat sepasang telur puyuh
yang berbaring di piring mungil terlonjak, dan salah satunya menggelinding ke
luar arena. Syukur tangan emak yang satunya segera meraih sehingga tidak jatuh
sia-sia. Sedang Tole mulai terisak. Baru kali ini dia melihat emaknya
menyeringai sehebat itu.
“Bohong! Semua yang ada di tipi itu bohong, Le!”
Airmata Tole mulai menyembur deras. Tapi wajahnya seketika ditekuk
bertopang sebelah tangan di meja, tangan satunya lagi berada di belakang
tengkuk mencoba merapikan bulu kuduk yang berantakan. Maka emaknya terus saja
menghardik panjang lebar. Tentang apa-apa yang dilihatnya di layar kaca; Kartun
tidak lebih menyehatkan dari suntikan vaksin kadaluarsa. Sinetron-sinetron
remaja, pun lebih pantas distempel sebagai media kursus mesum gratis. Berita-berita
politik yang dikemas absurd tak ubahnya pertunjukan ludruk yang mengundang tawa
geli nan ironi. Acara-acara reality show murahan berkedok sosial. Nyaris
semua adalah kepalsuan belaka.
“Dunia tipi itu semuanya palsu! Ya, semua! Ngerti kamu, Le?!”
Tidak ada jawaban.
Setiap kalimat yang meluncur bertubi-bertubi bagi Tole adalah musik
pengantar tidur. Dan bocah itu kini telah benar-benar lelap.
***
Sepulang sekolah Tole lekas menghambur ke dapur dengan semangat
yang berapi-api. Mengalahkan tungku tanah liat yang bahkan belum berhasil
dinyalakan oleh Emaknya. Hujan semalam sedikit lebih kerap dari kemarin.
“Mak, kata guru dan teman-temanku tadi, desa kita masuk tipi, loh,”
serunya lantang.
Emak yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, berdiri pelan
menghadap Tole lantas menggulung kedua lengan dasternya.
SELESAI
Respon
1. Bagaimana pendapat kalian mengenai perwatakan tokoh ‘Emak’?
2. Apakah ending dari cerita ini cukup menarik?
3. Pesan moral apa saja yang bisa dipetik dari konflik yang dialami Tole sekaligus dari keseluruhan cerita?
1. Bagaimana pendapat kalian mengenai perwatakan tokoh ‘Emak’?
2. Apakah ending dari cerita ini cukup menarik?
3. Pesan moral apa saja yang bisa dipetik dari konflik yang dialami Tole sekaligus dari keseluruhan cerita?
SSalam :)

0 comments:
Post a Comment