Banner 468 x 60px

 

" TOLE "

0 comments

Cerpen Izar Razhman "TOLE"


ilustrasi gambar by google

Sejak adegan terakhir pada film kartun yang dia tonton di rumah temannya tadi, Tole sudah menahan haru pada dirinya sendiri. Film animasi itu memang benar-benar membuat penasaran setiap episodenya. Hingga ketika kakinya baru melangkahi pintu rumah, selaput penahan air matanya seketika saja dipecahkan.

“Mak, aku pengen punya tipi,” rajuk Tole dengan sekonyong-konyong. Napasnya terengah-engah karena pasti lelah berlari saat melewati tanah kosong di sepanjang jalan yang minim penerangan. Bibirnya dimanyunkan, wajahnya pun dibuat semelas tuna wisma. Emaknya yang saat itu sedang sibuk memisahkan lingkaran obat nyamuk yang masih saling terkait tidak langsung menjawab. Membuat Tole mengulangi perkataannya. Kali ini bekas bungkus kok yang selalu ia gunakan bermain teropong-teropongan bersama temannya ia gunakan sebagai cerobong alternatif di mulutnya. “Maaak ...” Kedua sisi pundak Emak seketika terjinjit tanpa aba-aba, membuat lingkaran obat nyamuk di tangan Emak patah.

“Ng... Ngapunten.” Segera Tole meminta maaf atas kelancangannya setelah mendapati sepasang mata Emak terlihat lebih bulat dari sebelumnya.

“Korek apinya mana? Tadi habis kamu pakai mainan!” tanya Emak setengah mengomel, tanpa peduli dengan apa yang baru saja anaknya orasikan.

“Ini.” Dikeluarkannya korek api dari dalam buntalan sarung Tole yang menggunduk di bagian perut, lantas menjulurkan ke arah Emak.

“Kalau habis dipakai itu mbokya dibalikin ke tempatnya lagi,” renyah Emak menghardik setelah merebut korek api yang di ujung bawahnya terdapat senter mini itu.

Tole masih mempertahankan kemanyunan bibirnya sedari tadi.
“Kalau gak ada korek itu, aku gak bisa pulang, Mak.”

Cepat sekali, Emak memalingkan wajahnya dari ujung obat nyamuk yang baru saja disulutnya dengan korek api. Segesit nyamuk yang lari ketakutan, mata Emak terbirit-birit ke arah wajah Tole yang digeletakkan begitu saja di atas meja.
“Kalau takut ya gak usah nonton tipi!” Meja digebrak.

Malam itu, kalimat terakhir yang keluar dari mulut Emaknya telah menjelma jadi nyanyian pengantar tidur bagi Tole. Senandung itu seolah musik yang tanpa sengaja tertekan tombol repeat sehingga tak henti-hentinya melantun di kepalanya, lengkap dengan video klip tanggul ambrol yang membanjiri desa pipi pualam, hingga ia pulas.

Pagi harinya, tidak banyak yang mereka bincangkan. Mata Tole masih sembab sisa kejadian semalam dan Emaknya diam-diam juga masih menyimpan rasa bersalah yang dalam.

“Tidak usah, jatah uang jajanku Emak masukkan saja ke celengan bambu untuk beli tipi,” kata Tole nyaris tanpa ekspresi. Ia menolak pecahan uang lima ratus rupiah sebanyak empat koin dari tangan Emaknya.
“Assalamualaikum,” pamitnya kemudian setelah mengecup tangan Emak yang masih mengepal—mungkin--satu-satunya harta yang ia miliki di pagi ini.

Sepatu pantofel peninggalan bapaknya menuntun langkah Tole ke sekolah. Meski kedodoran, sekalipun ujung dalamnya sudah dijejali dengan buntalan koran bekas. Tapi Tole tetap merasa nyaman dengan satu-satunya warisan dari bapaknya yang masih bisa ia pakai itu. Daripada harus lelah push up sepuluh kali, pikirnya.

Sedang emaknya mendadak jadi janda ayu yang bisu. Serupa patung, patung dengan air mancur yang mengalir dari kedua belah mata sayu. Tapi tentu yang baru saja terjadi itu bukanlah sebuah kutukan. Janda yang seharusnya beranak dua—seandainya saudara kembar Tole tidak meninggal—itu kembali menjadi manusia utuh. Patung di tubuhnya seketika sirna ketika ia sadar bahwa matahari sudah berhasil memanjat dinding bumi, kecuali air mancurnya.

Di sebelah kiri rumahnya adalah ladang jagung. Sebelah kanan ada kali yang jika arusnya terus diikuti, akan menuju pada air terjun yang tercipta karena patahan sebuah tebing yang disebabkan bencana tanah longsor sekitar sewindu lalu. Sedang di depan rumahnya—setelah halaman dan pagar—adalah jalanan tidak terlalu lebar yang menuju ke rumah-rumah penduduk lain. Meski jaraknya tidak saling berdekatan. Lalu di seberang jalan tersebut—lima puluh meter ke sebelah kiri—terdapat sebuah surau tua yang mana di sanalah biasanya Tole dan teman-temannya mengaji.  Bangunan tua itu dikelilingi oleh rerimbun pohon jati, mahoni dan semacamnya. Di sanalah biasanya emak memunguti dahan dan ranting rapuh untuk dijadikan sebagai bahan bakar memasak. Kadang jika beruntung, emak bisa saja menemukan telur puyuh yang mungkin induknya telah ditembak mati oleh pemburu amatiran. Atau bahkan memang sengaja ditinggalkan oleh induknya. Sebab apa? Siapa yang tahu. Mungkin saja karena kebanyakan nonton televisi, batin Emak menggerutu.

Butuh perjuangan yang tidak mudah untuk bisa menyalakan ranting-ranting pohon yang belum kering benar, meski sudah diakali dengan menjejalkan dedaun jati kering. Perempuan yang suaminya mati karena radang paru-paru yang diderita sejak lama itu meniup-niup tungku tanah liat menggunakan cerobong kecil yang terbuat dari potongan batang bambu. Sekilas memang terlihat mudah, tapi jika salah prosedur, apinya hanya akan melahap habis dedaunannya tanpa berhasil menyulut ranting. Tapi keahlian Emak Tole, haram untuk diragukan, meski napasnya harus tersengal-sengal terlebih dahulu. Seperti jelang siang ini, hingga matahari telah bersolek menor di balai langit, si Emak baru selesai memasak. Hanya gara-gara semalam gerimis.

“Masak apa, Mak? Baunya sedap.”

Emak tergelagap dengan kepulangan Tole. Sadar, sepanjang pagi tadi waktunya habis untuk bermain-main dengan api. Selangkah kaki Tole kemudian, Emak menghadang.

“Lupa dengan yang diajarkan Emak setiap hari?” nada bicaranya terdengar culas.

Tole yang masih menenteng sepatu pantofelnya—inisiatif agar tidak cepat rusak—segera mengoreksi diri.
“Iya. Assalamualaikum.”

Baru setelah itu bara di wajah emaknya padam. Lalu menjawab, “Waalaikum salam.” Sembari mempersembahkan punggung tangan kanannya tepat di ujung hidung anaknya.

Bungkus kok di tangan kanan Tole segera dilempar hingga tersungkur jauh di bawah kolong. Kemudian gegas ia menghirup punggung tangan kanan emaknya yang jelas masih beraroma bawang bercampur asap.

“Telur puyuh kesukaanmu, Le.” Bibir emak disunggingkan. Cara yang cerdas untuk mengembalikan suasana harmonis. Tapi Tole justru membanting napasnya keras-keras ke udara.

“Bosen, Mak,” katanya malas.

Emak sontak meletakkan dua porsi makanan dengan kasar ke atas meja.
“Akhir-akhir ini kamu sering ngeluh, Le!”
Wajah emak kini berada sangat dekat dengan hidung anaknya. Penuh selidik.

Tole memundurkan wajah beberapa senti saja tanpa sedikitpun menyinggung napas emaknya. Parasnya keruh dan tertunduk.
“Coba aku seperti Doraemon, pengen apa-apa tinggal ambil dari dalam kantong ajaib.”
           
            Kini Emak berdiri lebih sigap. Lantas menggulung kedua lengan dasternya sampai di atas siku.
“Ini semua pasti gara-gara tipi!”
Meja digebrak oleh sebelah tangan emak yang sebetulnya tidak terlalu kekar, tapi hentakan yang dihasilkan cukup membuat sepasang telur puyuh yang berbaring di piring mungil terlonjak, dan salah satunya menggelinding ke luar arena. Syukur tangan emak yang satunya segera meraih sehingga tidak jatuh sia-sia. Sedang Tole mulai terisak. Baru kali ini dia melihat emaknya menyeringai sehebat itu.

“Bohong! Semua yang ada di tipi itu bohong, Le!”

Airmata Tole mulai menyembur deras. Tapi wajahnya seketika ditekuk bertopang sebelah tangan di meja, tangan satunya lagi berada di belakang tengkuk mencoba merapikan bulu kuduk yang berantakan. Maka emaknya terus saja menghardik panjang lebar. Tentang apa-apa yang dilihatnya di layar kaca; Kartun tidak lebih menyehatkan dari suntikan vaksin kadaluarsa. Sinetron-sinetron remaja, pun lebih pantas distempel sebagai media kursus mesum gratis. Berita-berita politik yang dikemas absurd tak ubahnya pertunjukan ludruk yang mengundang tawa geli nan ironi. Acara-acara reality show murahan berkedok sosial. Nyaris semua adalah kepalsuan belaka.

“Dunia tipi itu semuanya palsu! Ya, semua! Ngerti kamu, Le?!”

Tidak ada jawaban.
Setiap kalimat yang meluncur bertubi-bertubi bagi Tole adalah musik pengantar tidur. Dan bocah itu kini telah benar-benar lelap.

***

Sepulang sekolah Tole lekas menghambur ke dapur dengan semangat yang berapi-api. Mengalahkan tungku tanah liat yang bahkan belum berhasil dinyalakan oleh Emaknya. Hujan semalam sedikit lebih kerap dari kemarin.

“Mak, kata guru dan teman-temanku tadi, desa kita masuk tipi, loh,” serunya lantang.

Emak yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, berdiri pelan menghadap Tole lantas menggulung kedua lengan dasternya.

SELESAI

Respon
1.      Bagaimana pendapat kalian mengenai perwatakan tokoh ‘Emak’?
2.      Apakah ending dari cerita ini cukup menarik?
3.      Pesan moral apa saja yang bisa dipetik dari konflik yang dialami Tole sekaligus dari keseluruhan cerita?

SSalam :)

0 comments:

Post a Comment

 
FIKSIKOLOGI © 2017