Simbol
Cerpen Blowing Mind Lanjut Baca...
Pudarnya Benang Merah
Flipped Story (Sejarah Jungkir-Balik), Unreliable Narator Lanjut baca...
Tangisan Langit
Cerita Pendek Lanju baca...
Kubah-kubah Di Dada Mereka
Puisi Satire Lanjut baca...
Fiksikologikal
Sebuah Suara; Dari Kepala, Untuk Siapapun
(Bukan Cerpen)
ilustrasi by google
Seandainya, orangtuamu meninggal dan mewariskan sebuah
komputer. Apakah kamu akan menyimpannya dengan baik agar tidak rusak, atau kamu
akan memanfaatkannya bahkan sampai rusak?
Atau mungkin berbentuk sebuah lukisan kaligrafi
setengah jadi--yang tak sempat tuntas. Apakah kamu akan melanjutkan lukisan itu
hingga pantas, atau malah membiarkannya seperti sediakala sekalipun terlihat
nahas?
Atau seumpama berwujud sebuah suara emas yang
tersimpan di dalam stoples. Apakah kamu berhasrat mendengarkan suara itu, atau
tak rela membiarkannya menguap dan hilang diterpa bayu?
Atau barangkali tak membenda apapun, melainkan hanya
seberkas iman. Apakah kau akan menerimanya begitu saja, atau kau berpikir untuk
terus mencari hingga menemui kebenarannya?
Tamu Dari Langit
Hari ini Pak Lurah mantu.
Anak gadisnya yang bernama Ratih akan menikah dengan seorang pemuda dari
seberang desa yang juga dari kalangan terpandang. Seluruh warga kampung
diundang untuk turut serta menjadi saksi terikatnya dua insan, manjadi saksi
bahwa keluarga mereka benar-benar kaya, juga sebagai saksi bahwasanya dengan
memiliki besan seorang kaya-raya berarti kekayaan mereka akan berlipat ganda.
Setelah mengenakan
pakaian terbaik yang kumiliki—setelan batik jawa-timuran—, pagi-pagi sekali aku
sudah menyatroni kediaman Pak Lurah. Alih-alih turut bergotong-royong
mempersiapkan segala sesuatu, setelah sampai di sana, orang-orang sudah bejibun
menindaki pekerjaan mereka masing-masing, ada yang merapikan meja-kursi,
beberapa lagi menyiapkan hidangan dan minuman untuk disusun pada meja yang
tersedia. Tukang sound system terlihat menyelubungkan selembar besar
terpal untuk berjaga-jaga jika saja turun hujan. Penata pelaminan kembali
mengecek karya yang mereka desain, memastikan tidak ada bunga yang layu
sebelum waktunya. Beberapa Hansip juga telah berdiri sigap di tempatnya
masing-masing, mengingat sebentar lagi ratusan atau bahkan mungkin ribuan
undangan akan hadir memenuhi tempat itu.
Untuk beberapa saat aku
celingukan seperti orang bodoh karena tak mendapati kesibukan yang bisa
kukerjakan. Sebentar kemudian kulihat dua tukang sound system bersusah
payah menarik ujung terpal untuk dinaikkan di atasnya, maka naluri kesosialanku
segera bangkit. Aku menghampiri mereka dan membantu menutupi pengeras suara itu
dengan sempurna. Aku bernapas lega, setidaknya sekarang aku sudah pantas hadir
di sini dan layak mencicipi hidangannya.
Mendung datang bersama
dengan rombongan orang-orang yang hadir untuk menyaksikan dan mengucapkan
‘Selamat’ untuk sepasang mempelai paling bahagia di hari ini, seolah awan hitam
itu mengerti betapa mereka yang berbondong-bondong kemari tidak ingin parfumnya
bercampur dengan keringat yang akan menyebabkan aromanya berantakan.
Pengeras suara yang aku
tadi turut mengkerudunginya kini telah berdendang dengan bahagia tanpa was-was
kepalanya akan basah. Penerima tamu mulai terlihat lelah berjabat tangan hingga
tangan satunya mereka gunakan untuk menopang siku yang kini sukar diluruskan.
Para pelandang menjalankan tugasnya dengan langkah-langkah kecil dan cepat. Aku
masih duduk di bawah hasil-karya-kecil-ku untuk mengikiskan sedikit
keringat yang tersisa, di sebelah dua orang tukang sound system yang
kini sama-sama menyeruput secangkir kopi bersamaku. Kami berbincang sedikit
setelah saling melontarkan terima kasih.
Aku tidak yakin kalau
hujan pun turut ingin menyaksikan pesta perkawinan ini, tapi nyatanya mereka
benar-benar turun dan menyaksikannya, membuat sebagian undangan harus merelakan
kursinya untuk diduduki oleh rombongan tamu dari langit itu. Itu pun tidak semua,
sebagian lagi dengan suka rela duduk beralaskan rumput. Aku menghampiri
sepasang Tamu Dari Langit yang terlihat sedang menggendong hujan kecil. Tak
kupedulikan celana dan sepatuku yang berlumuran lumpur. Dengan selembar daun
pisang cukup lebar kunaungi mereka dan bertanya, “Berapa umurnya?” ibunya
menjawab, “Sekitar lima-belas detik.” Lalu aku katakan padanya sebaiknya pulang
saja, sebab mereka pasti akan kecewa jika mendapati wajah pengantin
perempuannya. Aku juga memberinya jatah bingkisanku untuknya agar segera mau
pulang. Lebih dari itu, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya.
***
Hari H. Pukul enam pagi.
“Kenapa bisa sampai ada
orang gila datang di pestaku?” Pak Lurah mencecar ketua Hansip sambil menuding
seseorang di kejauhan yang berpakaian compang-camping sedang duduk di bawah sound
system.
Yang ditanya hanya
menjawab, “Kan Pak Lurah sendiri yang mengundang segenap warga untuk hadir di
pesta Bapak. Tidak ada penjelasan kalau orang gila dilarang hadir, kan?”
Pak Lurah kemudian memutar
bola matanya setelah mendengus. “Pastikan dia tidak membuat ulah!”
Ketua hansip lantas
mendaratkan ujung telapak tangannya ke bagian pelipisnya, bersamaan dengan
dadanya yang dibusungkan sebelum akhirnya menuju dapur utama untuk mengambil
secerat kopi beserta tiga cangkir berukuran sedang yang ia berniat untuk menyuguhkannya
kepada tukang sound system.
“Silakan,” kata Ketua
Hansip itu sembari menaruh nampan kopi kepada dua orang paling bertanggung
jawab mengenai volume. “Ini untukmu,” ucapnya lagi kepada orang gila di sebelah
mereka. “Tetap duduk di sini dan jangan bikin onar. Oke?” Orang gila itu
menanggapi dengan menyembulkan jempolnya tinggi-tinggi.
Para undangan mulai
berdatangan ketika awan hitam tiba-tiba berarak di atas pelaminan. Sang pawang
hujan lantas beraksi dengan menyalakan segebok dupa yang ia tancapkan di
pelataran. Dengan gamitan mantra-mantra yang merembes dari bibir hitamnya
akhirnya satu dua hujan yang sempat turun diperingatkan oleh sang pawang hujan
agar mengajak teman-temannya segera pergi dari situ. Atau jika tidak, sang
pawang mengancam ujung dupanya itu akan menusuk mereka satu per satu.
***
Pagi itu kebetulan kami
sedang terbang rendah ketika mendapati segerombolan manusia berdesak-desakan
mengerubungi sebuah tempat yang dinaungi. Kupikir kemarau telah menyebabkan
kekacauan sehingga mereka harus antre untuk mendapatkan air. Maka kuutus
beberapa ajudanku untuk turun melihat apa yang terjadi. Jika memang benar
mereka butuh air, berarti kami harus segera terjun, tapi jika bukan, ya,
setidaknya kita tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sekitar dua-puluh-lima
prajurit kuturunkan untuk melihat situasi. Sekitar dua-puluh-lima detik pula
mereka baru kembali.
“Itu artinya
masing-masing dari kalian bekerja satu detik hanya untuk tugas semacam itu!”
“Maaf, seandainya Reon
dan Rein tidak keras kepala untuk turut turun mungkin kita hanya butuh nol
koma sekian detik untuk itu. Bayinya membuat kita harus terbang pelan.”
Rein mengalihkan
pembicaraan dengan berucap, “Aku bertemu dengan malaikat di bawah sana.”
Sebaliknya, beberapa lagi berkata, “Aku justru bertemu dengan makhluk bodoh
yang mengancam kami dengan api.”
KUBAH-KUBAH DI DADA MEREKA
Kubah-Kubah di Dada Mereka
Oleh: Izar Razhman
Nun,
Sejenak hilang
sejenak tayang
;kiswah perak keemasan
sekarat terbuang
gentayang
zirah putih pendar aura
kala waskita lucuti perca
tampak salib di antara kubahnya
merah nyata
gugur, daun menganggur
runtuh, tiang terapuh
tersungkur
jatuh
Dunia mereka berbeda ;maya
Dunia kalian ;genting dalam penjara
Duniaku ;satu sel pun tak tahu
Dunia kita ;berkeping tanpa satu
Lalu kubah bersilam
Tuhan enyah dari semayam
dipaksa simpan dalam botolbotol kusam
iman pucat masam
Goa-goa kumuh jelma surau
desah ah-ih-uh terdengar parau
undang jemaah
berjamah
bedug tak lagi ada
ngiang denting kaca yang nyata
tajam tanduk koyak sekat
hati dan hati; sekarat.
(Dokument)
Surabaya, 24 September 2016
IMANUNA
Imanuna
Oleh: Izar Razhman
Alif
Bumi tak lagi bayi
petaka nyata ;bukti ia t’lah renta
pohon, gunung, laut mati
amat tamak ‘tuk bertanya mengapa?
Mim
Gugur lalu subur
siklus bumi mendaur
jatuh lantas tumbuh
ganjar atas simpuh
sedih berujung asih
jajak tanpa pamrih
duka cermin suka
refleksi buah karma
mati jelang abadi
janji Illahi
Nun
Kalla saya’lamuun
membatu besar biji kepala
menganak Eka tumbuh laksa
Tsumma kalla saya’lamuun
andai iman berbentuk kafan
malu hati tertanggalkan
Pada tiang yang mana lagi tangan
menggenggam?
;pohon abadi raib terajam
Pada tanah yang mana lagi kening
bersungkur?
;alas suci ‘anggur terpengkur
Angin
Bulan
Matahari
;tak sudi lagi
maka usah hirau sepi
jika riuh undang nyeri
pagar hijaiyah bukan penjara
sebatas sekat lindung bala
Tunduk tawadlu’ pasrah wasilah ;Yaumuddiin
pejam khusyu’ Khusnul khatimah ;
Fii Akhariin
Bismillah. Aamiin.
Surabaya, 25 September 2016
SIMBOL
SIMBOL
"Cerpen Mind Blowing"
Ilustrasi by google
Aku akan tetap duduk di sini sampai ada seseorang yang bertanya
padaku ‘Apa yang kau lakukan di sini?’, sambil kupikirkan jawaban terbaik untuk
pertanyaan itu.
Ini malam yang anggun. Lampu-lampu jalan menyala serentak selepas matahari
pamit untuk menyusui senja. Di tambah satu fakta besar lagi, ini sabtu malam.
Aku memilih duduk di bawah tiang lampu paling ujung, tepat di sudut tikungan
yang membatasi sebuah taman kota, di luar pagar besi—yang kalian bisa dengan
mudah memanjatnya jika berniat.
Kuanggap saja pangkal tiang lampu itu adalah kursi kelab malam nyaman
seperti yang kerap kupantati dulu. Memesan bir paling mahal sampai kelenger,
lalu berfantasi dengan apapun yang ingin kurengkuh. Meski tidak begitu
kenyataannya sekarang.
Aku duduk menghadap ke taman yang dipenuhi dengan wahana permainan
bocah—Kuda-kudaan matrealis yang tidak akan mau berbuat apa-apa jika tidak
dijejali koin, perosotan dengan ketinggian sedang yang tidak menyebabkan patah
tulang meski tersungkur dari puncaknya, juga ada ayunan berderet di sepanjang
sisi—lengkap dengan simbol ilustrasi siluet wajah sepasang kekasih sedang
berciuman yang dicoret dengan segaris warna merah. Sekalipun begitu, ada saja
bocah-bocah berkumis yang tanpa malu menikmati wahana tersebut.
Di belakangku, sebuah jalan berbatako kian ramai oleh kendaraan
yang berlalu lalang seiring malam. Sebagian di antaranya tanpa segan memarkir
kendaraannya pada bahu jalan yang meski jelas tertera huruf ‘P dipalang’ di
sana.
Seorang bocah usia lima tahunan yang baru saja turun dari dalam
mobil bersama orang tuanya, menunjuk tanda yang berarti ‘Dilarang Parkir’ itu.
“P,” fasih bocah itu mengeja, sambil menunjukkan gestur seolah ingin dipuji.
Kutebak bocah itu meniru ekspresi ibunya ketika berdandan di depan cermin saat
hendak pergi ke kondangan yang tidak biasa. Bapaknya mengelus rambut bocah itu
sebelum menjawab, “Ya. P.” Kemudian ketiga bibir keluarga yang sepertinya
bahagia itu tampak saling menyungging satu sama lain.
Ketika keluarga kecil—yang sepertinya bahagia—itu hendak melangkah
kemudian, entah mengapa aku spontan menyahut, “Bukan P. Kau harus tahu
maknanya.” Kutujukan kalimat itu kepada gadis kecil yang kini berada di
gendongan bapaknya. Tapi aku sendiri tidak bisa menjamin kalau orang tuanya
tidak tersinggung dengan ucapanku. Barangkali perangai ini mendapatkan kesan
seorang gelandangan yang sok tahu. Lantas kulemparkan pandangan sejauh mungkin
sebelum mereka menatapku lebih tajam. Berpura-pura seolah mata ini tidak sedang
memerhatikan mereka.
Beberapa detik kemudian kukembalikan posisi mataku ke keadaan
semula. Kini yang tampak dari keluarga yang sepertinya bahagia itu tak lebih
hanya tiga bidang punggung berukuran M, L dan XL. Langkahnya berayun mantap
melewati lapak-lapak khusus pedagang kaki lima yang berjejer di sisi seberang.
Mereka menuju ke sebuah restoran mewah di samping bioskop. Agaknya aroma soto,
bakso, rendang, penyet, lodeh adalah sesuatu yang mengganggu hidung mereka.
“Apa yang kaulakukan di sini?”
Akhirnya kudengar suara itu. Tadinya kukira menunggu pertanyaan
tersebut sama susahnya dengan menanyakan ‘adakah seorang dewasa yang tidak
pernah merasakan kesetrum?’.
Aku menoleh, dan mendapati seorang perempuan muda sedang melabrak
seekor lelaki yang duduk berdampingan dengan perempuan lain. Memerhatikan
pertengkaran mereka dari jarak yang sangat dekat sama halnya seperti menonton
bioskop telenovela tiga dimensi—Dulu aku kerap melakukan itu ketika istriku
memaksa. Dulu, sebelum ku-vonis bahwa malam adalah siang, sebelum kumis dan
jenggotku seputih dan seawut-awutan sekarang, sebelum aku gila, sebelum
istriku mengemudikan mobilnya dengan laju untuk janji temu dengan tuhannya.
Kalimat itu meluncur kembali dari bibir merekah milik si perempuan
tadi dengan telunjuk yang menusuk-nusuk dada lelakinya. Sedang perempuan
satunya hanya memilih bisu. Lalu kusimpulkan bahwa kalimat yang tadi itu sama
sekali tidak ditujukan padaku. Di akhir pertunjukan, lelaki itu menangis. Aku
hampir turut menangis—menangisi perempuan itu seandainya dia terperdaya.
Seperti ketika aku berada di dalam bioskop dengan suguhan adegan
yang melankolis, yang kerap hanya berujung bosan. Kalau sudah begitu aku
memilih beralasan kepada istriku bahwa aku sedang sakit perut, lantas pergi ke
toilet sambil menyulut berbatang-batang rokok hingga kuduga telah menginjak
menit-menit akhir. Lebih-lebih menyaksikan segmen pertengkaran dramatis di
tempat umum kian membuatku jelak. Maka kuputuskan pindah ke sudut yang lain, di
bawah pohon beringin yang tidak terlalu seram. Ada kursi kayu melingkari pohon
itu. Aku duduk di bawahnya. Menggunakan kaki kursinya sebagai sandaran.
Seorang lelaki gegas menghampiri. Seandainya aku pedagang asongan,
pastilah aku akan bersyukur. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam
yang dilonggarkan. Sebuah jas berwarna gelap tersampir begitu saja di
pundaknya. “Mau bir?” tawarnya. Begitu hendak kuraih botol yang ia suguhkan,
dia kembali merapatkan minumannya ke dada. Lalu berbicara panjang lebar dengan
sesekali jeda hanya untuk menarik napas, tertawa, atau meneguk minuman yang
urung ia tawarkan padaku.
“Enyahlah!” kataku berseringai.
Pria tadi lantas pergi dengan tetap mengoceh—mungkin—dengan makhluk
halus yang ada di dalam botol minumannya. Aku memandangi punggungnya cukup lama
hingga warna putih kemejanya lenyap ditelan gelap.
Sesaat aku merasa seperti ..., daun gugur yang baru saja mengenai
kepalaku. Tak ada yang peduli sekalipun untuk sekadar bertanya ‘Apa yang kau
lakukan di sini?’
“Hei, apa yang kau ...”
Seorang satpam terhuyung menghampiriku. Namun belum sempat ia
menyelesaikan kalimatnya, sebuah benturan keras terdengar dari kejauhan. Satpam
penjaga taman itu berlari menuju sumber suara. Aku membuntutinya.
Kecelakaan.
Mobil sedan hitam mengkilat penyok menghantam tiang lampu yang tadi
kududuki. Seorang perempuan terkulai di balik kemudi. Satpam tadi dibantu
segerombolan orang mencoba mengeluarkannya. Tubuh perempuan itu terjepit. Aku
turut membantu, menyelinap di sebelah satpam tadi sambil menyumbangkan tenaga
meregangkan besi mobil yang terasa panas.
“Maaf,” kataku kepada Si Satpam. Aku berusaha mencari momen di
sela-sela kepanikan. “Anda tadi ingin mengatakan apa padaku?”
“Yang mana?—,“ wajahnya tetap mencemaskan seorang perempuan yang
terkulai di balik kemudi. Semua mencemaskannya. “—tarik lagi!” katanya memberi
aba-aba kepada yang lain agar meregangkan body mobil yang ringsek.
“Tadi, ketika Anda menghampiriku di bawah pohon sana,” kataku
dengan menunjuk sebuah tempat di kejauhan hanya dengan gerakan kepala. “Anda
bilang; ‘Apa yang kau’, Lalu?”
“Coba lagi!” Dia menggunakan sebuah linggis untuk menarik sisi besi
yang bengkok “Kau bicara apa?” matanya menyiratkan kemarahan ke arahku.
“Aku hanya mau bertanya apakah ...”
“Keparat kau!” linggis itu diacungkan ke wajahku. “Kau membicarakan
hal tak penting sedangkan ada seseorang sedang sekarat di sini? Hah?” Orang-orang mulai memandangku geram. Kuputuskan untuk diam.
Setelah perempuan itu berhasil dikeluarkan, aku baru tersadar jika
dia adalah perempuan yang tadi menyemburkan lahar sumpah serapah ketika
memergoki kekasihnya bertanda-petik dengan perempuan lain. Orang-orang tampak
mengembangkan dada, lega. Kata salah seorang yang bergumam, perempuan itu
sengaja bunuh diri. Sabuk pengamannya sengaja tidak dikenakan, sebuah test
pack, juga ada pil anti depresan bertaburan di mobilnya.
Sudah pukul sebelas malam ketika aku mencuci tangan di air mancur bergoyang
di tengah-tengah taman. Tiba-tiba bayangan sebentuk wajah muncul di permukaan
airnya. Aku menjamah wajah itu, spontan rautnya berkerut dan bergelambir. Lalu
aku tahu ke arah mana harus menghadap. Bocah perempuan dari keluarga yang
sepertinya bahagia tadi menghampiriku, sendirian. “Apa yang kau lakukan di
sini?” bisiknya.
Oh. Kenapa harus bocah yang menanyakan hal itu?
Istriku pernah berkata, “Berdirilah di keasingan dan tunggu hingga
ada seseorang yang benar-benar memerhatikanmu. Maka kau akan tahu apa yang
kurasakan.” Saat itu menjelang sore. Aku menolak ajakannya untuk menonton film
di bioskop. Maka dia menangis dengan banyak sekali kata ‘seandainya’.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Bocah itu kembali berbisik. Menarik kemaja putihku hingga aku harus
membungkuk untuk mendengarkan ucapan selanjutnya, “Aku tahu.” Napasnya beraroma
lopster panggang.
“Tidak ada. Hanya mengenang—.” Improvisasi. Kusuguhkan senyum ke
wajah bocah itu. “—mengenang kebodohan.” Kupastikan dia tidak mendengar kalimat
terakhir yang kuucapkan.
Namanya Lolita, dia sempat melambai sambil menegaskan, “P!” Telunjuknya
mengacung. “Jangan melanggar!” sebelum
ia berlari kembali menuju ke orangtuanya.
***
Malam yang kesekian ribu. Malam yang tak pernah berubah. Malam dengan topeng yang selalu sama, dengan
pertanyaan yang tak pernah kumiliki jawabannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
SELESAI.
TANGISAN LANGIT (Flash Fiction)
Flash Fiction TANGISAN LANGIT
Cerpen singkat oleh Izar Razhman
ilustration by google
.
Sebetulnya sudah lama sekali aku merindukan rumah,
meskipun kau tidak akan percaya jika kuberitahu wujudnya lebih buruk daripada
kolong jembatan ini.
.
Mentari jadi jarang sekali menyapa di bulan Juni.
Tak berlaku lagi pembagian bulan tentang kapan hujan akan turun.
.
Kuperhatikan langkah-langkah kecil para pejalan
kaki yang dengan lincahnya melewati kubangan-kubangan air di hampir tiap tiga
langkah sekali. Bukan karena sebuah pepatah “Jangan bercermin di air keruh”
melainkan sekali lagi ini bulan Juni yang aneh. Pada mentari yang mana lagi
mereka akan memamerkan sepatunya yang kinclong(?) Tapi para pelajar tetap
terlihat bersemangat menyambut tahun ajaran baru, pasti karena uang jajan
mereka naik level. Bukan rahasia lagi.
.
Bebas sekali ya hidup mereka. Lain denganku yang
tidak bisa ke mana-mana karena terjebak di sini. Rutinitasku hanya memerhatikan
mereka satu persatu yang melintas di jembatan tempatku berteduh sambil
menengadah. Tak jarang orang-orang memandangku risih. Lalu melempariku dengan
nasi bungkus yang lebih sering sisa atau sudah basi. Kadang juga beberapa helai
pakaian kumuh.
.
“Hei! Aku sedang berdo’a kepada Tuhan. Bukan
meminta belas kasih kalian!”
.
Kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya mereka
pelajari di sekolahnya? Seolah aku ini lebih hina dari rupa neraka. Kalau
memang tidak suka, seharusnya mereka mengusirku saja dari sini. Itu jauh lebih
mulia bagiku ketimbang berpura-pura baik dengan memberiku nasi busuk dan
gombal.
Allah. Adakah nanti yang tergerak
hatinya untuk tulus mengulurkan tangannya kepadaku? Ah! Bahkan Satpol PP pun
enggan. Aku tidak mau bermimpi lebih dengan berharap dijadikan saudara. Aku
sadar diri. Cita-citaku saat ini hanya ingin dipulangkan. Itu saja. Dari pada
nanti ketika tiba perayaan natal. Saat hujan tak lagi mau reda, meskipun
dianggapnya sebagai rejeki yang meruah. Namun bagaimana jika terlalu meruah?
Itu bukan lagi rejeki, tapi tangisan langit yang sedih melihat sikap manusia.
Lalu jalanan mereka menjelma jadi kolam-kolam tanpa ikan. Pohon-pohon peneduh
tumbang. Rumah-rumah mereka mendadak berubah seperti perahu kertas yang melaju
di aliran got. Kalau sudah begitu, mereka pasti akan menghujatku, “Kau penyebab
semua petaka ini!” Padahal sejujurnya aku lebih suka tidur di truk sampah dari
pada di bawah jembatan.
“Bukankah tangan-tangan kalian
sendiri yang menggiringku ke sini?"
END
Sila bubuhkan respon Anda di komentar :)
.
Subscribe to:
Posts (Atom)






