ILUSI
Cerpen FF oleh Izar Razhman
ilustrasi by google
Jangan membayangkan apapun
Jangan perhatikan dinding warna
hitam atau putih
Jangan memikirkan ruang makan
yang kosong
Jangan melihat lantai yang basah
juga genting yang retak
Jangan pedulikan gula yang
berceceran di meja
Jangan mengalihkan perhatian ke
kartu-kartu yang berserakan.
Jangan fokus pada satu kartu yang
terbuka.
Dan jangan sekali-kali coba untuk
masuk ke sana.
Semut, tikus dan sesuatu yang
tidak terlalu jelas yang kau lihat di sudut ruang itu tidak nyata. Lagipula
kita tidak akan bisa mengatasi semua kekacauan ini hanya dengan berilusi.
Aku tahu, katamu.
Tapi kenapa kamu bisa melihat
bayangan yang memantul dari genangan air di lantai?
Kenapa kamu begitu yakin bahwa
baru saja telah terjadi hujan?
Kenapa kamu menafsirkan bahwa
tempat itu terlalu kumuh?
Apa kamu membayangkan semua itu?
Tidak!
Apa kamu memikirkan semuanya?
Tidak!
Menurutmu apakah beberapa bulir
gula itu berhasil dicuri sekawanan semut?
Aku tidak tahu. Mungkin saja.
Katamu kau tidak memikirkannya?
Bagaimana aku tidak memikirkannya
jika kamu terus saja mengocehkan hal itu.
Baiklah, aku akan diam.
Bagus.
Tapi semua kekacauan ini tidak
akan lerai hanya dengan berdiam.
Terserah kau saja lah.
Kau mau ke mana?
Aku butuh berendam.
Boleh aku ikut?
Semua kekacauan ini juga tidak
akan lerai hanya dengan berendam.
Aku menyesal sudah mengatakan
itu.
Bagian yang mana? ‘Semua
kekacauan ini tidak akan lerai hanya dengan berdiam’? suramu memantul-mantul
di dalam kamar mandi.
Bukan. Tapi yang menyebabkan
semua kekacauan ini.
Bukan salahmu.
Salah siapa lagi? Kau mau
mempertaruhkan perasaanmu untukku?
Tidak ada yang salah.
Kau memakai levender body
soap, Sayang?
Bagaimana kau tahu?
Aromanya.
Penciumanmu cukup tajam.
Penglihatanku lebih tajam.
Kau berbalik, mengemasi busa
yang memenuhi kepala, wajah dan tubuhmu. Lalu terhenyak mendapati pintu yang
lupa seharusnya kau apakan. Lalu mengumpat; Sialan. Kau melihatnya?
Dengan detil.
Kau gila.
Tidak ada yang lebih gila
menandingi siapapun yang memercayai keberadaan kita.
Kau tertawa dan berkata;
kau benar.
Menurutmu bagaimana ekspresi
mereka seandainya tahu kalau kita tidak ada.
Dia akan marah padamu.
Pada kita?
Tidak. Hanya kepadamu.
Kalau itu yang terjadi. Aku akan
marah kepadanya.
Siapa?
Yang menciptakan kita.
Tuhan?
Mungkin.
Kau tertawa lagi. Lebih renyah
dari sebelumnhya.
Sayang?
Ya?
Aku berubah pikiran.
Tentang?
Aku ingin masuk ke sana.
Ke mana? Kepalamu kau
longokkan sebagian.
Ke ruang makan kita yang sudah
berabad-abad tidak kita sambangi.
Mau apa?
Hanya melihat-lihat.
Kau serius hanya ingin
melihat-lihat? Kau bahkan melarangku untuk membayangkannya.
Tapi pada akhirnya kau
membayangkannya juga, kan?
Karena otak kita di-stel untuk
tidak menerima ‘larangan’.
Tidak selalu benar.
Bisa kaubuktikan?
Bagaimana jika aku melarangmu
membayangkan kata ‘JANGAN’? apa yang ada di kepalamu sekarang?
Tentu saja kata ‘JANGAN’.
Nah.
Aku bisa menunggumu sampai kau
selesai mandi jika kamu mau.
***
Persis seperti yang kau-katakan,
Sayang, katamu.
Maksudmu persis seperti yang
kularang?
Itu dia maksudku. Lihat. Tanganmu
menunjuk sesuatu di atas meja. Gula. Sebuah wadah menggelempang dengan
tutup yang tergeletak di sebelahnya.
Apa sebelumnya kau juga
membayangkan bahwa meja ini berwarna cokelat tua atau lebih cenderung hitam?
Persis.
Awas kakimu, kataku
mengingatkan. Kau tentu tidak ingin meninggalkan jejak basah di sini,
bukan?
Tidak mungkin bisa.
Bagaimana kau tahu?
Ya. Sekalipun aku meninggalkan
jejak basah di sini, mustahil akan terlihat. Sebab ruangan ini terlalu gelap
untuk menerangi lantai. Lagipula alam bawah sadar kita hanya merekam sesuatu
yang diinformasikan.
Benar. Itu. Kutunjuk sebuah
genting yang retak. Dari celah retakannya itu menerobos sebuah cahaya tipis dan
samar. kau membayangkannya juga?
Iya.
Menurutmu cahaya itu berasal dari
apa?
Rembulan. Eh, bukan. Lampu
mungkin, tapi ...
Nah, sekarang kau kebingungan.
Karena dalam pendefinisianmu sebelumnya kau membayangkan bahwa telah terjadi
hujan. Jadi tidak mungkin ada rembulan di atas sana. Kau bahkan tidak
membayangkan bahwa di atas ruangan
ini ada ruangan lain, kan? Jadi mustahil
ada lampu di atas sana.
Lalu cahaya ini dari mana?
Dari pikiranmu sendiri.
Wow. Seandainya kamu mensugestiku
sebuah rembulan di atap ini?
Itulah. Apapun bisa terwujud
dengan sugesti.
Tapi tentu hanya sebatas
khayalan, kan?
Bukan. Bahkan bisa benar-benar
terwujud dalam kehidupan nyata.
Benarkah?
Nanti kubuktikan.
Kepalamu mengangguk, memaksa
dirimu sendiri untuk percaya.
Kenapa aku tidak melihat satu
hewan pun di tempat kumuh seperti ini?
Karena aku hanya mensugestikan
semut dan tikus.
Lalu di mana mereka? Semut dan
tikus itu?
Tidak akan hadir.
Kenapa?
Karena dalam fase tersebut, kau tidak
terlalu memercayai kehadirannya.
Seperti itu kah?
Ya. Coba lihat di sana. Kutunjuk
sebuah sudut ruang. Apa yang kau lihat?
Tidak jelas.
Tepat sekali. Aku tidak memberimu
kesempatan untuk memvisualisasikan benda apa yang ada di sana, sekalipun ketika
kau membayangkan tempat ini ada sesuatu yang terlintas di sana. Mungkin
terlihat seperti sebuah lemari kecil di telan kegelapan. Lalu dinding-dinding
ini yang bercorak muram dan tidak jelas, itu karena aku mencampurkan antara
hitam dan putih. Tapi dua warna itu
berhasil mengacaukan pikiranmu sehingga bahkan tidak menghadirkan warna
abu-abu.
Ini luar biasa.
Well. Di mana kau
membayangkan sebuah kartu?
Itu. Tepat di sana.
Hanya ada satu kartu yang
terbuka. Warna apa yang ada di pikiranmu saat itu?
Merah.
Bagus.
Kau menemukan sebuah angka atau
huruf?
Angka.
Genap atau ganjil?
Ganjil.
Perfect.
Bisa kau sebutkan sebelum kita
membuktikannya?
Tujuh-merah hati.
Baiklah, mari kita lihat.
Langkahmu cemas. Aku bisa membacanya
dari pelannya kau menjejakkan langkah.
Wow!
Apa kau berhasil?
Kau yang berhasil, Sialan.
Tidak. Kau yang berhasil. Aku
bahkan tidak tahu kartu apa yang terbuka.
Kau tidak tahu?
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa
tahu. Tapi sekarang aku tahu.
Katakan kalau sebenarnya kau
sudah mengetahuinya sejak awal.
Sama sekali tidak. Aku
mendapatkan jawaban itu darimu sendiri.
Oh ya?
Tepat ketika kau bilang ‘Wow’,
aku baru menyadari kalau aku berhasil menguasaimu.
Menguasaiku?
Menguasai alam bawah sadarmu.
Baiklah. Kuanggap semua
pengaruhmu telah berhasil. Tidak ada klue lagi di sini?
Masih ada satu.
Apa?
Apa sekarang kau sadar telah
berbincang denganku?
Tentu saja. Maksudmu?
Apa kau sadar jika ini nyata?
Tidak sama sekali. Aku ingin
segera keluar.
Sayangnya tidak bisa.
Apa katamu?
Kita sudah terpenjara di ruangan
ini. Kau pikir di luar ruangan ini ada apa?
Aku tidak bisa membayangkannya.
Jelas! Karena memang tidak akan
ada apa-apa. Ketika kau berusaha melangkah keluar ... Ah, bagaimana mungkin kau akan keluar bahkan
kau tidak membayangkan ada jendela di ruangan ini, bukan?
Lalu di mana pintunya?
Tidak ada pintu. Dalam
pandanganmu saat ini. Ruangan ini hanya terbentuk dari tiga sisi dinding yang
rapat.
Tapi ruangan ini tidak membentuk
segitiga.
Ya. Kau hanya bisa melihat tiga
sisi—kiri, depan dan kanan. Sedang satu sisinya lagi adalah terhalang oleh
posisimu sendiri. Dan bagaimana mungkin kau akan menerobos dirimu sendiri?
Inilah kenyataannya. Semakin kau memberontak pada dirimu sendiri, semakin dalam
kau akan berada di dalamnya.
Lalu?
Terimalah. Kehidupan ini adalah
ilusi tak berbatas.
END(?)
Silakan respon di kolom komentar.




