Banner 468 x 60px

 

ILUSI Cerpen FF oleh Izar Razhman

1 comments

ILUSI

Cerpen FF oleh Izar Razhman


ilustrasi by google



Jangan membayangkan apapun
Jangan perhatikan dinding warna hitam atau putih
Jangan memikirkan ruang makan yang kosong
Jangan melihat lantai yang basah juga genting yang retak
Jangan pedulikan gula yang berceceran di meja
Jangan mengalihkan perhatian ke kartu-kartu yang berserakan.
Jangan fokus pada satu kartu yang terbuka.
Dan jangan sekali-kali coba untuk masuk ke sana.
Semut, tikus dan sesuatu yang tidak terlalu jelas yang kau lihat di sudut ruang itu tidak nyata. Lagipula kita tidak akan bisa mengatasi semua kekacauan ini hanya dengan berilusi.

Aku tahu, katamu.

Tapi kenapa kamu bisa melihat bayangan yang memantul dari genangan air di lantai?
Kenapa kamu begitu yakin bahwa baru saja telah terjadi hujan?
Kenapa kamu menafsirkan bahwa tempat itu terlalu kumuh?
Apa kamu membayangkan semua itu?

Tidak!

Apa kamu memikirkan semuanya?

Tidak!

Menurutmu apakah beberapa bulir gula itu berhasil dicuri sekawanan semut?

Aku tidak tahu. Mungkin saja.

Katamu kau tidak memikirkannya?

Bagaimana aku tidak memikirkannya jika kamu terus saja mengocehkan hal itu.

Baiklah, aku akan diam.

Bagus.

Tapi semua kekacauan ini tidak akan lerai hanya dengan berdiam.

Terserah kau saja lah.

Kau mau ke mana?

Aku butuh berendam.

Boleh aku ikut?

Semua kekacauan ini juga tidak akan lerai hanya dengan berendam.

Aku menyesal sudah mengatakan itu.

Bagian yang mana? ‘Semua kekacauan ini tidak akan lerai hanya dengan berdiam’? suramu memantul-mantul di dalam kamar mandi.

Bukan. Tapi yang menyebabkan semua kekacauan ini.

Bukan salahmu.

Salah siapa lagi? Kau mau mempertaruhkan perasaanmu untukku?

Tidak ada yang salah.

Kau memakai levender body soap, Sayang?

Bagaimana kau tahu?

Aromanya.

Penciumanmu cukup tajam.

Penglihatanku lebih tajam.

Kau berbalik, mengemasi busa yang memenuhi kepala, wajah dan tubuhmu. Lalu terhenyak mendapati pintu yang lupa seharusnya kau apakan. Lalu mengumpat; Sialan. Kau melihatnya?

Dengan detil.

Kau gila.

Tidak ada yang lebih gila menandingi siapapun yang memercayai keberadaan kita.

Kau tertawa dan berkata; kau benar.

Menurutmu bagaimana ekspresi mereka seandainya tahu kalau kita tidak ada.

Dia akan marah padamu.

Pada kita?

Tidak. Hanya kepadamu.

Kalau itu yang terjadi. Aku akan marah kepadanya.

Siapa?

Yang menciptakan kita.

Tuhan?

Mungkin.

Kau tertawa lagi. Lebih renyah dari sebelumnhya.

Sayang?

Ya?

Aku berubah pikiran.

Tentang?

Aku ingin masuk ke sana.

Ke mana? Kepalamu kau longokkan sebagian.

Ke ruang makan kita yang sudah berabad-abad tidak kita sambangi.

Mau apa?

Hanya melihat-lihat.

Kau serius hanya ingin melihat-lihat? Kau bahkan melarangku untuk membayangkannya.

Tapi pada akhirnya kau membayangkannya juga, kan?

Karena otak kita di-stel untuk tidak menerima ‘larangan’.

Tidak selalu benar.

Bisa kaubuktikan?

Bagaimana jika aku melarangmu membayangkan kata ‘JANGAN’? apa yang ada di kepalamu sekarang?

Tentu saja kata ‘JANGAN’.

Nah.
Aku bisa menunggumu sampai kau selesai mandi jika kamu mau.

***

Persis seperti yang kau-katakan, Sayang, katamu.

Maksudmu persis seperti yang kularang?

Itu dia maksudku. Lihat. Tanganmu menunjuk sesuatu di atas meja. Gula. Sebuah wadah menggelempang dengan tutup yang tergeletak di sebelahnya.

Apa sebelumnya kau juga membayangkan bahwa meja ini berwarna cokelat tua atau lebih cenderung hitam?

Persis.

Awas kakimu, kataku mengingatkan. Kau tentu tidak ingin meninggalkan jejak basah di sini, bukan?

Tidak mungkin bisa.

Bagaimana kau tahu?

Ya. Sekalipun aku meninggalkan jejak basah di sini, mustahil akan terlihat. Sebab ruangan ini terlalu gelap untuk menerangi lantai. Lagipula alam bawah sadar kita hanya merekam sesuatu yang diinformasikan.

Benar. Itu. Kutunjuk sebuah genting yang retak. Dari celah retakannya itu menerobos sebuah cahaya tipis dan samar. kau membayangkannya juga?

Iya.

Menurutmu cahaya itu berasal dari apa?

Rembulan. Eh, bukan. Lampu mungkin, tapi ...

Nah, sekarang kau kebingungan. Karena dalam pendefinisianmu sebelumnya kau membayangkan bahwa telah terjadi hujan. Jadi tidak mungkin ada rembulan di atas sana. Kau bahkan tidak membayangkan bahwa  di atas ruangan ini  ada ruangan lain, kan? Jadi mustahil ada lampu di atas sana.

Lalu cahaya ini dari mana?

Dari pikiranmu sendiri.

Wow. Seandainya kamu mensugestiku sebuah rembulan di atap ini?

Itulah. Apapun bisa terwujud dengan sugesti.

Tapi tentu hanya sebatas khayalan, kan?

Bukan. Bahkan bisa benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.

Benarkah?

Nanti kubuktikan.

Kepalamu mengangguk, memaksa dirimu sendiri untuk percaya.
Kenapa aku tidak melihat satu hewan pun di tempat kumuh seperti ini?

Karena aku hanya mensugestikan semut dan tikus.

Lalu di mana mereka? Semut dan tikus itu?

Tidak akan hadir.

Kenapa?

Karena dalam fase tersebut, kau tidak terlalu memercayai kehadirannya.

Seperti itu kah?

Ya. Coba lihat di sana. Kutunjuk sebuah sudut ruang. Apa yang kau lihat?

Tidak jelas.

Tepat sekali. Aku tidak memberimu kesempatan untuk memvisualisasikan benda apa yang ada di sana, sekalipun ketika kau membayangkan tempat ini ada sesuatu yang terlintas di sana. Mungkin terlihat seperti sebuah lemari kecil di telan kegelapan. Lalu dinding-dinding ini yang bercorak muram dan tidak jelas, itu karena aku mencampurkan antara hitam dan putih.  Tapi dua warna itu berhasil mengacaukan pikiranmu sehingga bahkan tidak menghadirkan warna abu-abu.

Ini luar biasa.

Well. Di mana kau membayangkan sebuah kartu?

Itu. Tepat di sana.

Hanya ada satu kartu yang terbuka. Warna apa yang ada di pikiranmu saat itu?

Merah.

Bagus.

Kau menemukan sebuah angka atau huruf?

Angka.

Genap atau ganjil?

Ganjil.

Perfect.

Bisa kau sebutkan sebelum kita membuktikannya?

Tujuh-merah hati.

Baiklah, mari kita lihat.

Langkahmu cemas. Aku bisa membacanya dari pelannya kau menjejakkan langkah.

Wow!

Apa kau berhasil?

Kau yang berhasil, Sialan.

Tidak. Kau yang berhasil. Aku bahkan tidak tahu kartu apa yang terbuka.

Kau tidak tahu?

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu. Tapi sekarang aku tahu.

Katakan kalau sebenarnya kau sudah mengetahuinya sejak awal.

Sama sekali tidak. Aku mendapatkan jawaban itu darimu sendiri.

Oh ya?

Tepat ketika kau bilang ‘Wow’, aku baru menyadari kalau aku berhasil menguasaimu.

Menguasaiku?

Menguasai alam bawah sadarmu.

Baiklah. Kuanggap semua pengaruhmu telah berhasil. Tidak ada klue lagi di sini?

Masih ada satu.

Apa?

Apa sekarang kau sadar telah berbincang denganku?

Tentu saja. Maksudmu?

Apa kau sadar jika ini nyata?

Tidak sama sekali. Aku ingin segera keluar.

Sayangnya tidak bisa.

Apa katamu?

Kita sudah terpenjara di ruangan ini. Kau pikir di luar ruangan ini ada apa?

Aku tidak bisa membayangkannya.

Jelas! Karena memang tidak akan ada apa-apa. Ketika kau berusaha melangkah keluar ...  Ah, bagaimana mungkin kau akan keluar bahkan kau tidak membayangkan ada jendela di ruangan ini, bukan?

Lalu di mana pintunya?

Tidak ada pintu. Dalam pandanganmu saat ini. Ruangan ini hanya terbentuk dari tiga sisi dinding yang rapat.

Tapi ruangan ini tidak membentuk segitiga.

Ya. Kau hanya bisa melihat tiga sisi—kiri, depan dan kanan. Sedang satu sisinya lagi adalah terhalang oleh posisimu sendiri. Dan bagaimana mungkin kau akan menerobos dirimu sendiri? Inilah kenyataannya. Semakin kau memberontak pada dirimu sendiri, semakin dalam kau akan berada di dalamnya.

Lalu?

Terimalah. Kehidupan ini adalah ilusi tak berbatas.


END(?)

Silakan respon di kolom komentar.




Read more...
 
FIKSIKOLOGI © 2017