Cerpen Izar Razhman
"Pudarnya Benang Merah"
Kutarik napas dalam-dalam ketika Oma Ela hendak memulai cerita.
Agaknya seisi ruangan turut melakukan hal yang sama. Dalam keadaan seperti itu,
sesaat aku teringat dengan opening film ‘Titanic’ di mana Si Rose Tua
dikelilingi beberapa orang yang memasang wajah tegang—tak sabar ingin segera
mendengar ceritanya. Hanya saja bedanya antara Oma Ela dan Rose Tua adalah;
jika Rose Tua saat itu memegangi properti berupa liontin dan di sampingnya
terdapat seekor anjing, maka di tangan Oma Ela tergenggam angin kosong dan di
atas meja di sebelahnya dibiarkan seekor kucing merebah malas di sana. Dan
seharusnya aku tidak perlu mengungkapkan apa yang baru saja berkelebat di
kepalaku, tapi akhirnya keceplosan juga.
“Dari tadi kudengar kau bilang begitu, Vin,” kata Oma memenggal
namaku—Kevin—di sela-sela persiapannya berkisah.
“Langsung saja, Oma,” pinta kami dengan mengambil posisi ternyaman—duduk
bersila di lantai.
Oma Ela terlihat menarik napas panjang sekali lagi, lantas
mengembuskannya keluar. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena seolah telah
gagal membuatnya berkonsentrasi. “Jadi,” kata Oma memulai. “Cerita tentang
Titanic itu hanya fiktif.”
Kami semua sontak saling berpandangan mendengar pernyataan Oma.
“Rekam saja terus, Bil,” saranku. “Aku yakin Oma Ela memiliki cara bercerita
yang unik.” Bil kembali fokus pada handycame yang dipegangnya.
“Mmm. Dona,” panggil Oma. Wanita di sebelahku bangkit dan mendekatkan
wajahnya ke wajah Oma Ela. “Tolong buatkan aku green-tea,” pintanya
kemudian.
Dona sempat memasang wajah keberatan. Dia tidak mau ketinggalan
cerita barang satu segmen pun. Sebelum akhirnya aku berkata, “Kau satu-satunya
yang cukup pantas untuk melakukan tugas itu, Manis.”
“Baik,” balas Dona gegas ke dapur. “Jangan mulai dulu selagi aku membuatkan
minuman.” Kepalanya memutar ke belakang sesaat dengan sebelah tangan mengacung,
lebih mirip mengancam.
Tak lama kemudian Dona kembali dengan membawa nampan ukuran sedang.
Di atas nampan itu berdiri lima gelas berisi green-tea panas yang
mengepul. Sekelebat ia sungguh mirip pelayan professional.
“Gadis baik,” puji Bil.
“Jangan berulah, Bil.” Dona menanggapinya dengan sikap sinis.
“Lanjutkan, Oma.”
Tangan Oma Ela bergetar ketika kulihat ia sedang berusaha menyecap green-tea
yang jelas masih panas itu. Tapi sepertinya ia berhasil menyeruputnya
sedikit. Kami lebih memilih mendiamkan minuman kami sesaat, paling tidak sampai
uapnya sedikit berkurang.
“Jack dan Rose hanyalah tokoh fiktif,” kata Oma. Kami kembali
memandang satu sama lain, kecuali Bil. Dia tetap fokus agar gambar yang
direkamnya tidak terguncang. Sudah kusarankan sebaiknya dia menggunakan trypod,
tapi katanya tak perlu.
“Ya, kami tahu itu,” putus Pablo. “Jack dan Rose pada film Titanic
memang bukan orang aslinya. Aku tidak yakin kalau figur aslinya setampan
Leonardo de Caprio atau semolek Kate Winslet.”
“Diamlah, Pablo,” sentakku berbisik. “Sudah kubilang Oma memilkiki
cara yang berbeda dalam hal bercerita.”
Pablo mengangguk enggan, akhirnya. Memasang wajah setengah ragu.
Oma melanjutkan. “Aku tidak sedang berbicara tentang filmnya. Tapi
di kehidupan nyata-nya. Bahwa Jack, Rose dan Titanic hanyalah karangan belaka.”
Kami berusaha sebisa mungkin untuk diam dan tetap mendengarkan.
Tapi Pablo kelihatan seperti tidak tahan dengan hal itu. Dia berdiri. Membuka
kedua telapak tangannya lebar-lebar dengan pundak yang sedikit dijinjing,
menatap kami semua. Aku memandang lekat-lekat wajah Pablo. Telunjukku mengacung
tepat di depan hidungnya. “Sudah kubilang ...”
“Oke, oke.” Tubuh Pablo kembali melunak. Bil mengarahkan kameranya
ke arah kami. “Kita tidak akan butuh adegan itu, Bil,” sergah Pablo
memeringati.
Oma berdeham. Dengan cepat Bil mengarahkan kameranya ke seseorang
yang memang seharusnya menjadi titik fokusnya.
“James Cameroon—orang yang menyutradarai film Titanic itu,” kata
Oma “Dia menjiplak dari sebuah novel yang berjudul ‘Van der Wicjk’”.
Adegan saling berpandangan kembali berulang. Tapi tidak satu pun
dari kami berusaha menyanggah. Oma Ela menyeruput green-tea-nya sekali
lagi. Uap di permukaan gelas kami sudah tidak selebat tadi. Hanya butuh tiupan
kecil untuk bisa membuatnya bersahabat.
“Ya, Titanic menjiplak dari buku Van Der Wicjk,” jelasnya lagi.
Kami tetap memerhatikan. “Kenapa tidak ada yang protes?” tanyanya sendiri.
“Pablo? Kau tidak ingin berorasi?” Tangan Oma terlihat menepuk-nepuk lengan
kursi sandarnya. Menunggu kami menanggapi.
Aku menatap wajah Pablo. Tubuhnya digoyang-goyangkan pelan layaknya
seseorang yang berusaha tenang. Lalu kualihkan pandanganku ke arah sesuatu yang
tidak jelas. Aku hanya tidak ingin melihat siapapun. Lalu Dona angkat suara,
“Titanic tenggelam pada tahun 1912. Van Der Wicjk tenggelam pada tahun 1936.”
Dona mengatakan itu sambil menunduk. Seolah dia sedang berbincang dengan tali
sepatunya.
Aku mendapati Bil sempat mengabadikan momen di mana Dona melirik ke
arah Oma sebentar. Tapi kemudian kameranya lekas beralih membingkai wajah Oma
Ela.
“Titanic menjiplak cerita Van Der Wicjk.” Tangan Oma turut
mengacung menegaskan ketika mengatakan hal itu. “Buku ‘Van Der Wicjk’ ditulis
oleh Buya Hamka. Kemudian di adopsi menjadi film oleh seorang sutradara bernama
Sunil Soraya.” Oma menjelaskannya dengan tempo yang sangat pelan. “Lalu Zainuddin
dan Hayati ..., kalian tahu siapa mereka?” Oma menjeda ceritanya. Kami masih
diam. “Jawablah, Nak. Aku bertanya pada kalian.” Tangannya kembali
menepuk-nepuk lengan kursi.
“Tokoh utama dalam cerita Van Der Wick.” Kami nyaris berbarengan
menjawabnya.
“Cinta mereka akhirnya kandas karena kematian,” Pablo menimpali.
Bil mengarahkan kameranya sedikit lebih terlambat ke arah Pablo. “Hentikan,
Bil.”
“Benar sekali.” Jempol Oma menyembul lebih tinggi di antara
jari-jarinya yang lain. “Setidaknya kau berkata jujur tentang sebuah bukti—,”
Mata Oma menatapi kami bergantian. Saat itu kebetulan kami semua tidak sedang
merunduk. “—tapi bukti tidak selalu berarti realita,” pungkasnya.
Kami benar-benar tidak tahan untuk tidak kembali saling bertukar
pandangan. Terlebih Pablo, ketika mata kami saling bertemu, tatap dan senyum
kecilnya menyiratkan ironi.
Oma Ela menegaskan, “’Van Der Wicjk’ itu tidak nyata. Tidak ada
dalam relaita. Kalian tahu itu artinya apa?”
‘Kita seperti anak-anak TK yang mendengarkan dongeng, yang kerap
dipotong dengan sebuah pertanyaan, dan seolah kita harus menjawab dengan jujur,
sekalipun Bu Guru tidak membutuhkan jawaban dari kita.’ Setidaknya perasaan itu
mungkin yang sedang mengaung di kepala Pablo ketika kulihat tangannya mengusap
wajahnya yang sama sekali tidak perlu diusap.
“Buya Hamka itu penulis hebat,” kata Oma menyudahi edaran matanya, lamur
dan berlabuh di tangannya sendiri yang saling memagut. “Tidak heran jika dia
mampu membuat cerita fiksi se-nyata dan se-detil itu.”
“Oma?” Dona meminta perhatian. Tapi telapak tangan Oma menodong
perkataan Dona sebelum berlanjut.
“Tidak bisa diragukan lagi. Memang begitu faktanya. Titanic
menjiplak dari Van Der Wicjk. Dan Van Der Wicjk sendiri adalah karangan fiksi
yang diciptakan oleh seorang ahli pikir. Kau tidak ingin menyanggah, Nak?”
Kepala Oma menunjuk ke arah Pablo.
“Kalau tidak menyinggungmu, aku ingin berkata bahwa Anda sedang
membual. Tapi jika itu tidak menyinggungmu.”
Reflek saja, aku meremas kerah jaket Pablo. Nyaris kepalan tanganku
meluncur seandainya tidak kudengar Oma berkata, “Ada bagian yang memang
kubual.” Lalu kurasakan tangan yang tadi kugunakan meremas kerahnya
terpelanting menjauh.
“Sekali lagi kau lakukan itu,” ucap Pablo kepada Bil “Jangan
salahkan jika apa yang sudah kaulakukan tidak akan ada gunanya.” Dia begitu
tidak suka ketika kamera mengarah ke wajahnya di saat situasi yang selalu
kurang baik. “Lagipula, semua ini memang tidak ada gunanya.”
Aku sempat ingin kembali meremas kerahnya lebih kencang. Tapi
kemudian telunjuk Pablo menuding tajam di depan wajahku. “Dan kau!” seringainya
“Jangan lakukan itu lagi padaku.” Bukan telunjuknya yang membuatku urung
menghajarnya, tapi sebelum semua ini dimulai, kami sudah berjanji akan
menyelesaikan project secara professional.
Oma bertepuk tangan sekali. Kemudian nada tawa dan batuk saling
menerobos keluar dari tenggorokannya. Setelah itu tidak butuh jeda lagi
untuknya melanjutkan, “Bagian yang kubual adalah; bahwa Van Der Wicjk itu
fiksi. Itu tidak benar. Van Der Wick nyata adanya. Tapi kisahnya sebenarnya
tidak seperti yang beredar di masayarakat. Tidak seperti yang ditulis Buya
Hamka. Cerita yang disadurnya sengaja dibumbui demi kepentingan tertentu.
Manipulasi.”
“Oma?” Dona kembali meminta perhatian. Lagi-lagi tangan Oma
membungkamnya dari jarak jauh.
Pablo mengeluh, “Omong kosong.”
“Sebaiknya kita tetap diam sampai ceritanya selesai,” saranku.
Bil mengacungkan jempolnya sambil tetap memandangi handycame.
Dona mengasihani tali sepatunya.
“Di sebuah pelosok desa—,” suara Oma tertatih. Ia memberi jeda
sedikit ketika hendak mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku pakaian rajut
hangat yang dikenakannya.
Seketika kami semua memberikan perhatian lebih. Kupikir—mungkin
juga pikir kami semua—barangkali ini
adalah ending-nya.
Sapu tangan yang baru saja dikeluarkan Oma itu tidak digunakan
untuk menyeka apapun. Ia hanya menggenggamnya erat dengan kedua tangan di atas
pangkuan.
“—ada sepasang kekasih yang akhirnya menikah. Yang perempuan
bernama Jameela dan lelaki yang meminangnya memiliki nama Heru Razh.
“Saat menikah, usia Si Lelaki baru sembilan belas tahun, sedang Jameela
berusia lima belas. Cukup muda. Suatu ketika, saat peperangan sedang pecah,
seluruh kampung melarikan diri—ke hutan, ke puncak gunung, ke dalam goa, bahkan
yang paling bodoh adalah sembunyi di dalam genangan sungai. Heru Razh dan
Jameela termasuk yang bodoh. Delapan hari mereka dan beberapa orang menggenangkan
diri di tepi sungai yang deras dan dingin. Hanya kepala mereka yang dibiarkan
mengambang dengan ditutupi dedaunan atau karung atau apapun yang bisa digunakan
sebagai penyamaran untuk mengecoh perhatian Penjajah. Sesekali ketika dirasa
aman, salah satu dari mereka akan bergiliran naik ke permukaan untuk mencari
sesuatu yang bisa dimakan. Kadang daun singkong, buah pisang mentah, ubi jalar,
ulat daun, atau apa saja yang tidak beracun.
“Semakin hari jumlah mereka kian berkurang. Beberapa di antaranya
adalah anak-anak yang tenggelam terbawa arus, ibu-ibu hamil yang mati karena
pendarahan hebat tanpa pertolongan berarti, atau siapapun karena sakit,
kedinginan dan kelaparan. Akhirnya, mereka yang tersisa berinisiatif membuat
rakit dari susunan pohon pisang dan berniat melarungkan diri ke mana pun arus
akan membawa meraka. Mereka pasrah.
“Tiga hari tiga malam mereka diombang-ambingkan oleh arus sungai
yang membelah hutan. Beberapa di antara yang tersisa tadi meregang nyawa karena
sebab yang jelas tidak jelas—takut, lapar, dingin, depresi, apapun. Sampai pada
akhirnya tinggal Heru Razh dan Jameela yang bertahan. Menurut kalian kenapa
mereka bisa bertahan?” mata Oma menyelidik. Menegaskan bahwa ia benar-benar
sedang bertanya dan membutuhkan jawaban.
“’Cinta’, mungkin?” kataku.
“Mungkin juga,” kata Oma. “Aku sendiri tidak tahu pasti. Karenanya
aku bertanya, barangkali akan kutemukan jawaban yang lebih masuk akal.”
Kami kembali saling berpandangan satu sama lain. Bil mengarahkan
kameranya ke arah kami. Pablo tidak keberatan.
“Apa mungkin mereka egois?” Dona coba menyumbang jawaban.
Kami semua lantas menatap Dona. Mata kami seakan menyorotkan layar
hologram yang bertuliskan ‘maksud kamu?’.
“Mm—,” Kini Dona tampak ragu dengan jawabannya sendiri. “—maksudku,
apa mungkin mereka yang mati itu sebenarnya rela mati karena menaruh harapan
besar terhadap Razh dan Jameela?”
“Harapan apa?” Pablo bertanya dengan antusias.
“Ya?—” pundak Dona berayun, “—mungkin karena mereka masih muda, di
tambah lagi ..., pengantin baru. Entahlah.”
“Mungkin juga,” Oma menyahut. “Apapun alasannya, yang jelas tidak
ada yang tahu kenapa hanya mereka yang ditunjuk Tuhan untuk tetap hidup. Dan
mungkin Heru Razh dan Jameela sendiri pun tidak akan bisa menjawab pertanyaan
itu seandainya mereka ada di sini.”
“Well, lantas?” Pablo kembali bertanya dengan tidak sabar.
Oma pun menjawab dengan lebih cekatan, “Buya Hamka terinspirasi
dari kisah Heru Razh dan Jameela. Itu fakta tak terbantahkan. Yang kemudian
namanya disamarkan menjadi Zainuddin dan Hayati. Lalu kapal besar yang
diciptakan oleh imajinasinya itu sebenarnya adalah sebuah rakit yang terbuat
dari jalinan pohon pisang busuk.”
Kami menghela napas panjang. Sangat panjang. Lalu mengembuskannya
perlahan. Seakan cerita itu sudah berakhir. Tapi kami belum menemukan benang
merahnya. Atau lebih tepatnya benang merah yang kami temukan masih tampak kusut
dan berkerut. Lalu seakan Bil mewakili perasaan kami, dia bertanya pada Oma,
“Maaf, Oma,” katanya memulai. “Seandainya saja tahun tenggelamnya Van Der Wicjk
lebih dulu ketimbang Titanic, mungkin kita akan lebih mudah untuk mencernanya.
Tapi ...,” Sesaat Bil menoleh ke arah kami, meminta dukungan, tapi kami tidak
bisa memberinya apapun kecuali gestur tak jelas. Kemudian dia melanjutkan,
“Tapi bagaimana mungkin Titanic meniru Van Der Wicjk sedangkan Titanic
tenggelam di tahun 1912 dan Van Der Wicjk di tahun 1936?”
Agaknya green-tea kami sudah dingin. Oma menyeruputnya
dengan mudah dan lancar, bahkan tanpa tiupan. Setelah tenggorokannya melakukan
tugas dengan baik, Oma bersuara, “Aku ingin sekali menjawab, bahwa; Kisah Heru
Razh dan Jameela terjadi jauh sebelum muncul cerita Titanic. Sedang kisah yang
ditulis Buya Hamka adalah hasil saduran dari sebuah buku hystorial yang
terpendam sekian lamanya di dalam goa. Jadi sebenarnya, baik itu Van Der Wicjk
atau Titanic keduanya sama-sama menjiplak dari kisah hidup Heru Razh dan
Jameela. Aku ingin sekali menjawab begitu. Tapi mungkin kalian tidak akan percaya.
Jadi kita permudah saja, bahwa sebenarnya; sejarah, tidak terlalu penting untuk
diingat, dinikmati atau bahkan dipelajari. Kita hanya perlu untuk percaya.
Sejarah mana yang ingin kalian percayai, itu terserah kalian.”
“Maaf, Oma?” Dona mengangkat tangannya.
“Ya?” Oma menanggapinya kali ini.
“Oma lahir di tahun berapa?”
Sapu tangan yang dari tadi digenggam Oma masih tidak berfungsi
sebagai apa-apa. Oma meletakkan perca persegi itu di sebelah kucing angora yang
kini tertidur pulas di atas meja, dan memilih menyeka matanya yang berair
menggunakan punggung tangannya yang keriput. Oma belum menjawab pertanyaan yang
dilontarkan Dona ketika ia beranjak tertatih dari kursi menuju kamarnya.
Lumayan lama kemudian, Oma keluar, tapi handycame kami telah
kehabisan daya.
SELESAI
Respon
1. Bagaimana menurut kalian karakter Oma Ela dalam cerita ini?
2. Analogi apa yang coba disuguhkan oleh penulis dengan menggunakan 'handycame'?
3. Apa kesimpulan besar yang bisa kalian temukan?
Salam :)
Cerpen Izar Razhman
"Pudarnya Benang Merah"
Kutarik napas dalam-dalam ketika Oma Ela hendak memulai cerita. Agaknya seisi ruangan turut melakukan hal yang sama. Dalam keadaan seperti itu, sesaat aku teringat dengan opening film ‘Titanic’ di mana Si Rose Tua dikelilingi beberapa orang yang memasang wajah tegang—tak sabar ingin segera mendengar ceritanya. Hanya saja bedanya antara Oma Ela dan Rose Tua adalah; jika Rose Tua saat itu memegangi properti berupa liontin dan di sampingnya terdapat seekor anjing, maka di tangan Oma Ela tergenggam angin kosong dan di atas meja di sebelahnya dibiarkan seekor kucing merebah malas di sana. Dan seharusnya aku tidak perlu mengungkapkan apa yang baru saja berkelebat di kepalaku, tapi akhirnya keceplosan juga.
“Dari tadi kudengar kau bilang begitu, Vin,” kata Oma memenggal
namaku—Kevin—di sela-sela persiapannya berkisah.
“Langsung saja, Oma,” pinta kami dengan mengambil posisi ternyaman—duduk
bersila di lantai.
Oma Ela terlihat menarik napas panjang sekali lagi, lantas
mengembuskannya keluar. Aku jadi merasa sedikit bersalah karena seolah telah
gagal membuatnya berkonsentrasi. “Jadi,” kata Oma memulai. “Cerita tentang
Titanic itu hanya fiktif.”
Kami semua sontak saling berpandangan mendengar pernyataan Oma.
“Rekam saja terus, Bil,” saranku. “Aku yakin Oma Ela memiliki cara bercerita
yang unik.” Bil kembali fokus pada handycame yang dipegangnya.
“Mmm. Dona,” panggil Oma. Wanita di sebelahku bangkit dan mendekatkan
wajahnya ke wajah Oma Ela. “Tolong buatkan aku green-tea,” pintanya
kemudian.
Dona sempat memasang wajah keberatan. Dia tidak mau ketinggalan
cerita barang satu segmen pun. Sebelum akhirnya aku berkata, “Kau satu-satunya
yang cukup pantas untuk melakukan tugas itu, Manis.”
“Baik,” balas Dona gegas ke dapur. “Jangan mulai dulu selagi aku membuatkan
minuman.” Kepalanya memutar ke belakang sesaat dengan sebelah tangan mengacung,
lebih mirip mengancam.
Tak lama kemudian Dona kembali dengan membawa nampan ukuran sedang.
Di atas nampan itu berdiri lima gelas berisi green-tea panas yang
mengepul. Sekelebat ia sungguh mirip pelayan professional.
“Gadis baik,” puji Bil.
“Jangan berulah, Bil.” Dona menanggapinya dengan sikap sinis.
“Lanjutkan, Oma.”
Tangan Oma Ela bergetar ketika kulihat ia sedang berusaha menyecap green-tea
yang jelas masih panas itu. Tapi sepertinya ia berhasil menyeruputnya
sedikit. Kami lebih memilih mendiamkan minuman kami sesaat, paling tidak sampai
uapnya sedikit berkurang.
“Jack dan Rose hanyalah tokoh fiktif,” kata Oma. Kami kembali
memandang satu sama lain, kecuali Bil. Dia tetap fokus agar gambar yang
direkamnya tidak terguncang. Sudah kusarankan sebaiknya dia menggunakan trypod,
tapi katanya tak perlu.
“Ya, kami tahu itu,” putus Pablo. “Jack dan Rose pada film Titanic
memang bukan orang aslinya. Aku tidak yakin kalau figur aslinya setampan
Leonardo de Caprio atau semolek Kate Winslet.”
“Diamlah, Pablo,” sentakku berbisik. “Sudah kubilang Oma memilkiki
cara yang berbeda dalam hal bercerita.”
Pablo mengangguk enggan, akhirnya. Memasang wajah setengah ragu.
Oma melanjutkan. “Aku tidak sedang berbicara tentang filmnya. Tapi
di kehidupan nyata-nya. Bahwa Jack, Rose dan Titanic hanyalah karangan belaka.”
Kami berusaha sebisa mungkin untuk diam dan tetap mendengarkan.
Tapi Pablo kelihatan seperti tidak tahan dengan hal itu. Dia berdiri. Membuka
kedua telapak tangannya lebar-lebar dengan pundak yang sedikit dijinjing,
menatap kami semua. Aku memandang lekat-lekat wajah Pablo. Telunjukku mengacung
tepat di depan hidungnya. “Sudah kubilang ...”
“Oke, oke.” Tubuh Pablo kembali melunak. Bil mengarahkan kameranya
ke arah kami. “Kita tidak akan butuh adegan itu, Bil,” sergah Pablo
memeringati.
Oma berdeham. Dengan cepat Bil mengarahkan kameranya ke seseorang
yang memang seharusnya menjadi titik fokusnya.
“James Cameroon—orang yang menyutradarai film Titanic itu,” kata
Oma “Dia menjiplak dari sebuah novel yang berjudul ‘Van der Wicjk’”.
Adegan saling berpandangan kembali berulang. Tapi tidak satu pun
dari kami berusaha menyanggah. Oma Ela menyeruput green-tea-nya sekali
lagi. Uap di permukaan gelas kami sudah tidak selebat tadi. Hanya butuh tiupan
kecil untuk bisa membuatnya bersahabat.
“Ya, Titanic menjiplak dari buku Van Der Wicjk,” jelasnya lagi.
Kami tetap memerhatikan. “Kenapa tidak ada yang protes?” tanyanya sendiri.
“Pablo? Kau tidak ingin berorasi?” Tangan Oma terlihat menepuk-nepuk lengan
kursi sandarnya. Menunggu kami menanggapi.
Aku menatap wajah Pablo. Tubuhnya digoyang-goyangkan pelan layaknya
seseorang yang berusaha tenang. Lalu kualihkan pandanganku ke arah sesuatu yang
tidak jelas. Aku hanya tidak ingin melihat siapapun. Lalu Dona angkat suara,
“Titanic tenggelam pada tahun 1912. Van Der Wicjk tenggelam pada tahun 1936.”
Dona mengatakan itu sambil menunduk. Seolah dia sedang berbincang dengan tali
sepatunya.
Aku mendapati Bil sempat mengabadikan momen di mana Dona melirik ke
arah Oma sebentar. Tapi kemudian kameranya lekas beralih membingkai wajah Oma
Ela.
“Titanic menjiplak cerita Van Der Wicjk.” Tangan Oma turut
mengacung menegaskan ketika mengatakan hal itu. “Buku ‘Van Der Wicjk’ ditulis
oleh Buya Hamka. Kemudian di adopsi menjadi film oleh seorang sutradara bernama
Sunil Soraya.” Oma menjelaskannya dengan tempo yang sangat pelan. “Lalu Zainuddin
dan Hayati ..., kalian tahu siapa mereka?” Oma menjeda ceritanya. Kami masih
diam. “Jawablah, Nak. Aku bertanya pada kalian.” Tangannya kembali
menepuk-nepuk lengan kursi.
“Tokoh utama dalam cerita Van Der Wick.” Kami nyaris berbarengan
menjawabnya.
“Cinta mereka akhirnya kandas karena kematian,” Pablo menimpali.
Bil mengarahkan kameranya sedikit lebih terlambat ke arah Pablo. “Hentikan,
Bil.”
“Benar sekali.” Jempol Oma menyembul lebih tinggi di antara
jari-jarinya yang lain. “Setidaknya kau berkata jujur tentang sebuah bukti—,”
Mata Oma menatapi kami bergantian. Saat itu kebetulan kami semua tidak sedang
merunduk. “—tapi bukti tidak selalu berarti realita,” pungkasnya.
Kami benar-benar tidak tahan untuk tidak kembali saling bertukar
pandangan. Terlebih Pablo, ketika mata kami saling bertemu, tatap dan senyum
kecilnya menyiratkan ironi.
Oma Ela menegaskan, “’Van Der Wicjk’ itu tidak nyata. Tidak ada
dalam relaita. Kalian tahu itu artinya apa?”
‘Kita seperti anak-anak TK yang mendengarkan dongeng, yang kerap
dipotong dengan sebuah pertanyaan, dan seolah kita harus menjawab dengan jujur,
sekalipun Bu Guru tidak membutuhkan jawaban dari kita.’ Setidaknya perasaan itu
mungkin yang sedang mengaung di kepala Pablo ketika kulihat tangannya mengusap
wajahnya yang sama sekali tidak perlu diusap.
“Buya Hamka itu penulis hebat,” kata Oma menyudahi edaran matanya, lamur
dan berlabuh di tangannya sendiri yang saling memagut. “Tidak heran jika dia
mampu membuat cerita fiksi se-nyata dan se-detil itu.”
“Oma?” Dona meminta perhatian. Tapi telapak tangan Oma menodong
perkataan Dona sebelum berlanjut.
“Tidak bisa diragukan lagi. Memang begitu faktanya. Titanic
menjiplak dari Van Der Wicjk. Dan Van Der Wicjk sendiri adalah karangan fiksi
yang diciptakan oleh seorang ahli pikir. Kau tidak ingin menyanggah, Nak?”
Kepala Oma menunjuk ke arah Pablo.
“Kalau tidak menyinggungmu, aku ingin berkata bahwa Anda sedang
membual. Tapi jika itu tidak menyinggungmu.”
Reflek saja, aku meremas kerah jaket Pablo. Nyaris kepalan tanganku
meluncur seandainya tidak kudengar Oma berkata, “Ada bagian yang memang
kubual.” Lalu kurasakan tangan yang tadi kugunakan meremas kerahnya
terpelanting menjauh.
“Sekali lagi kau lakukan itu,” ucap Pablo kepada Bil “Jangan
salahkan jika apa yang sudah kaulakukan tidak akan ada gunanya.” Dia begitu
tidak suka ketika kamera mengarah ke wajahnya di saat situasi yang selalu
kurang baik. “Lagipula, semua ini memang tidak ada gunanya.”
Aku sempat ingin kembali meremas kerahnya lebih kencang. Tapi
kemudian telunjuk Pablo menuding tajam di depan wajahku. “Dan kau!” seringainya
“Jangan lakukan itu lagi padaku.” Bukan telunjuknya yang membuatku urung
menghajarnya, tapi sebelum semua ini dimulai, kami sudah berjanji akan
menyelesaikan project secara professional.
Oma bertepuk tangan sekali. Kemudian nada tawa dan batuk saling
menerobos keluar dari tenggorokannya. Setelah itu tidak butuh jeda lagi
untuknya melanjutkan, “Bagian yang kubual adalah; bahwa Van Der Wicjk itu
fiksi. Itu tidak benar. Van Der Wick nyata adanya. Tapi kisahnya sebenarnya
tidak seperti yang beredar di masayarakat. Tidak seperti yang ditulis Buya
Hamka. Cerita yang disadurnya sengaja dibumbui demi kepentingan tertentu.
Manipulasi.”
“Oma?” Dona kembali meminta perhatian. Lagi-lagi tangan Oma
membungkamnya dari jarak jauh.
Pablo mengeluh, “Omong kosong.”
“Sebaiknya kita tetap diam sampai ceritanya selesai,” saranku.
Bil mengacungkan jempolnya sambil tetap memandangi handycame.
Dona mengasihani tali sepatunya.
“Di sebuah pelosok desa—,” suara Oma tertatih. Ia memberi jeda
sedikit ketika hendak mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku pakaian rajut
hangat yang dikenakannya.
Seketika kami semua memberikan perhatian lebih. Kupikir—mungkin
juga pikir kami semua—barangkali ini
adalah ending-nya.
Sapu tangan yang baru saja dikeluarkan Oma itu tidak digunakan
untuk menyeka apapun. Ia hanya menggenggamnya erat dengan kedua tangan di atas
pangkuan.
“—ada sepasang kekasih yang akhirnya menikah. Yang perempuan
bernama Jameela dan lelaki yang meminangnya memiliki nama Heru Razh.
“Saat menikah, usia Si Lelaki baru sembilan belas tahun, sedang Jameela
berusia lima belas. Cukup muda. Suatu ketika, saat peperangan sedang pecah,
seluruh kampung melarikan diri—ke hutan, ke puncak gunung, ke dalam goa, bahkan
yang paling bodoh adalah sembunyi di dalam genangan sungai. Heru Razh dan
Jameela termasuk yang bodoh. Delapan hari mereka dan beberapa orang menggenangkan
diri di tepi sungai yang deras dan dingin. Hanya kepala mereka yang dibiarkan
mengambang dengan ditutupi dedaunan atau karung atau apapun yang bisa digunakan
sebagai penyamaran untuk mengecoh perhatian Penjajah. Sesekali ketika dirasa
aman, salah satu dari mereka akan bergiliran naik ke permukaan untuk mencari
sesuatu yang bisa dimakan. Kadang daun singkong, buah pisang mentah, ubi jalar,
ulat daun, atau apa saja yang tidak beracun.
“Semakin hari jumlah mereka kian berkurang. Beberapa di antaranya
adalah anak-anak yang tenggelam terbawa arus, ibu-ibu hamil yang mati karena
pendarahan hebat tanpa pertolongan berarti, atau siapapun karena sakit,
kedinginan dan kelaparan. Akhirnya, mereka yang tersisa berinisiatif membuat
rakit dari susunan pohon pisang dan berniat melarungkan diri ke mana pun arus
akan membawa meraka. Mereka pasrah.
“Tiga hari tiga malam mereka diombang-ambingkan oleh arus sungai
yang membelah hutan. Beberapa di antara yang tersisa tadi meregang nyawa karena
sebab yang jelas tidak jelas—takut, lapar, dingin, depresi, apapun. Sampai pada
akhirnya tinggal Heru Razh dan Jameela yang bertahan. Menurut kalian kenapa
mereka bisa bertahan?” mata Oma menyelidik. Menegaskan bahwa ia benar-benar
sedang bertanya dan membutuhkan jawaban.
“’Cinta’, mungkin?” kataku.
“Mungkin juga,” kata Oma. “Aku sendiri tidak tahu pasti. Karenanya
aku bertanya, barangkali akan kutemukan jawaban yang lebih masuk akal.”
Kami kembali saling berpandangan satu sama lain. Bil mengarahkan
kameranya ke arah kami. Pablo tidak keberatan.
“Apa mungkin mereka egois?” Dona coba menyumbang jawaban.
Kami semua lantas menatap Dona. Mata kami seakan menyorotkan layar
hologram yang bertuliskan ‘maksud kamu?’.
“Mm—,” Kini Dona tampak ragu dengan jawabannya sendiri. “—maksudku,
apa mungkin mereka yang mati itu sebenarnya rela mati karena menaruh harapan
besar terhadap Razh dan Jameela?”
“Harapan apa?” Pablo bertanya dengan antusias.
“Ya?—” pundak Dona berayun, “—mungkin karena mereka masih muda, di
tambah lagi ..., pengantin baru. Entahlah.”
“Mungkin juga,” Oma menyahut. “Apapun alasannya, yang jelas tidak
ada yang tahu kenapa hanya mereka yang ditunjuk Tuhan untuk tetap hidup. Dan
mungkin Heru Razh dan Jameela sendiri pun tidak akan bisa menjawab pertanyaan
itu seandainya mereka ada di sini.”
“Well, lantas?” Pablo kembali bertanya dengan tidak sabar.
Oma pun menjawab dengan lebih cekatan, “Buya Hamka terinspirasi
dari kisah Heru Razh dan Jameela. Itu fakta tak terbantahkan. Yang kemudian
namanya disamarkan menjadi Zainuddin dan Hayati. Lalu kapal besar yang
diciptakan oleh imajinasinya itu sebenarnya adalah sebuah rakit yang terbuat
dari jalinan pohon pisang busuk.”
Kami menghela napas panjang. Sangat panjang. Lalu mengembuskannya
perlahan. Seakan cerita itu sudah berakhir. Tapi kami belum menemukan benang
merahnya. Atau lebih tepatnya benang merah yang kami temukan masih tampak kusut
dan berkerut. Lalu seakan Bil mewakili perasaan kami, dia bertanya pada Oma,
“Maaf, Oma,” katanya memulai. “Seandainya saja tahun tenggelamnya Van Der Wicjk
lebih dulu ketimbang Titanic, mungkin kita akan lebih mudah untuk mencernanya.
Tapi ...,” Sesaat Bil menoleh ke arah kami, meminta dukungan, tapi kami tidak
bisa memberinya apapun kecuali gestur tak jelas. Kemudian dia melanjutkan,
“Tapi bagaimana mungkin Titanic meniru Van Der Wicjk sedangkan Titanic
tenggelam di tahun 1912 dan Van Der Wicjk di tahun 1936?”
Agaknya green-tea kami sudah dingin. Oma menyeruputnya
dengan mudah dan lancar, bahkan tanpa tiupan. Setelah tenggorokannya melakukan
tugas dengan baik, Oma bersuara, “Aku ingin sekali menjawab, bahwa; Kisah Heru
Razh dan Jameela terjadi jauh sebelum muncul cerita Titanic. Sedang kisah yang
ditulis Buya Hamka adalah hasil saduran dari sebuah buku hystorial yang
terpendam sekian lamanya di dalam goa. Jadi sebenarnya, baik itu Van Der Wicjk
atau Titanic keduanya sama-sama menjiplak dari kisah hidup Heru Razh dan
Jameela. Aku ingin sekali menjawab begitu. Tapi mungkin kalian tidak akan percaya.
Jadi kita permudah saja, bahwa sebenarnya; sejarah, tidak terlalu penting untuk
diingat, dinikmati atau bahkan dipelajari. Kita hanya perlu untuk percaya.
Sejarah mana yang ingin kalian percayai, itu terserah kalian.”
“Maaf, Oma?” Dona mengangkat tangannya.
“Ya?” Oma menanggapinya kali ini.
“Oma lahir di tahun berapa?”
Sapu tangan yang dari tadi digenggam Oma masih tidak berfungsi
sebagai apa-apa. Oma meletakkan perca persegi itu di sebelah kucing angora yang
kini tertidur pulas di atas meja, dan memilih menyeka matanya yang berair
menggunakan punggung tangannya yang keriput. Oma belum menjawab pertanyaan yang
dilontarkan Dona ketika ia beranjak tertatih dari kursi menuju kamarnya.
Lumayan lama kemudian, Oma keluar, tapi handycame kami telah
kehabisan daya.
SELESAI
Respon
1. Bagaimana menurut kalian karakter Oma Ela dalam cerita ini?
2. Analogi apa yang coba disuguhkan oleh penulis dengan menggunakan 'handycame'?
3. Apa kesimpulan besar yang bisa kalian temukan?
Salam :)

1 comments:
wah ... :o
Post a Comment