Banner 468 x 60px

 
0 comments

Tamu Dari Langit



Hari ini Pak Lurah mantu. Anak gadisnya yang bernama Ratih akan menikah dengan seorang pemuda dari seberang desa yang juga dari kalangan terpandang. Seluruh warga kampung diundang untuk turut serta menjadi saksi terikatnya dua insan, manjadi saksi bahwa keluarga mereka benar-benar kaya, juga sebagai saksi bahwasanya dengan memiliki besan seorang kaya-raya berarti kekayaan mereka akan berlipat ganda.

Setelah mengenakan pakaian terbaik yang kumiliki—setelan batik jawa-timuran—, pagi-pagi sekali aku sudah menyatroni kediaman Pak Lurah. Alih-alih turut bergotong-royong mempersiapkan segala sesuatu, setelah sampai di sana, orang-orang sudah bejibun menindaki pekerjaan mereka masing-masing, ada yang merapikan meja-kursi, beberapa lagi menyiapkan hidangan dan minuman untuk disusun pada meja yang tersedia. Tukang sound system terlihat menyelubungkan selembar besar terpal untuk berjaga-jaga jika saja turun hujan. Penata pelaminan kembali mengecek karya yang mereka desain, memastikan tidak ada bunga yang layu sebelum waktunya. Beberapa Hansip juga telah berdiri sigap di tempatnya masing-masing, mengingat sebentar lagi ratusan atau bahkan mungkin ribuan undangan akan hadir memenuhi tempat itu.

Untuk beberapa saat aku celingukan seperti orang bodoh karena tak mendapati kesibukan yang bisa kukerjakan. Sebentar kemudian kulihat dua tukang sound system bersusah payah menarik ujung terpal untuk dinaikkan di atasnya, maka naluri kesosialanku segera bangkit. Aku menghampiri mereka dan membantu menutupi pengeras suara itu dengan sempurna. Aku bernapas lega, setidaknya sekarang aku sudah pantas hadir di sini dan layak mencicipi hidangannya.

Mendung datang bersama dengan rombongan orang-orang yang hadir untuk menyaksikan dan mengucapkan ‘Selamat’ untuk sepasang mempelai paling bahagia di hari ini, seolah awan hitam itu mengerti betapa mereka yang berbondong-bondong kemari tidak ingin parfumnya bercampur dengan keringat yang akan menyebabkan aromanya berantakan.

Pengeras suara yang aku tadi turut mengkerudunginya kini telah berdendang dengan bahagia tanpa was-was kepalanya akan basah. Penerima tamu mulai terlihat lelah berjabat tangan hingga tangan satunya mereka gunakan untuk menopang siku yang kini sukar diluruskan. Para pelandang menjalankan tugasnya dengan langkah-langkah kecil dan cepat. Aku masih duduk di bawah hasil-karya-kecil-ku untuk mengikiskan sedikit keringat yang tersisa, di sebelah dua orang tukang sound system yang kini sama-sama menyeruput secangkir kopi bersamaku. Kami berbincang sedikit setelah saling melontarkan terima kasih.

Aku tidak yakin kalau hujan pun turut ingin menyaksikan pesta perkawinan ini, tapi nyatanya mereka benar-benar turun dan menyaksikannya, membuat sebagian undangan harus merelakan kursinya untuk diduduki oleh rombongan tamu dari langit itu. Itu pun tidak semua, sebagian lagi dengan suka rela duduk beralaskan rumput. Aku menghampiri sepasang Tamu Dari Langit yang terlihat sedang menggendong hujan kecil. Tak kupedulikan celana dan sepatuku yang berlumuran lumpur. Dengan selembar daun pisang cukup lebar kunaungi mereka dan bertanya, “Berapa umurnya?” ibunya menjawab, “Sekitar lima-belas detik.” Lalu aku katakan padanya sebaiknya pulang saja, sebab mereka pasti akan kecewa jika mendapati wajah pengantin perempuannya. Aku juga memberinya jatah bingkisanku untuknya agar segera mau pulang. Lebih dari itu, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya.

***
Hari H. Pukul enam pagi.

“Kenapa bisa sampai ada orang gila datang di pestaku?” Pak Lurah mencecar ketua Hansip sambil menuding seseorang di kejauhan yang berpakaian compang-camping sedang duduk di bawah sound system.

Yang ditanya hanya menjawab, “Kan Pak Lurah sendiri yang mengundang segenap warga untuk hadir di pesta Bapak. Tidak ada penjelasan kalau orang gila dilarang hadir, kan?”

Pak Lurah kemudian memutar bola matanya setelah mendengus. “Pastikan dia tidak membuat ulah!”

Ketua hansip lantas mendaratkan ujung telapak tangannya ke bagian pelipisnya, bersamaan dengan dadanya yang dibusungkan sebelum akhirnya menuju dapur utama untuk mengambil secerat kopi beserta tiga cangkir berukuran sedang yang ia berniat untuk menyuguhkannya kepada tukang sound system.

“Silakan,” kata Ketua Hansip itu sembari menaruh nampan kopi kepada dua orang paling bertanggung jawab mengenai volume. “Ini untukmu,” ucapnya lagi kepada orang gila di sebelah mereka. “Tetap duduk di sini dan jangan bikin onar. Oke?” Orang gila itu menanggapi dengan menyembulkan jempolnya tinggi-tinggi.

Para undangan mulai berdatangan ketika awan hitam tiba-tiba berarak di atas pelaminan. Sang pawang hujan lantas beraksi dengan menyalakan segebok dupa yang ia tancapkan di pelataran. Dengan gamitan mantra-mantra yang merembes dari bibir hitamnya akhirnya satu dua hujan yang sempat turun diperingatkan oleh sang pawang hujan agar mengajak teman-temannya segera pergi dari situ. Atau jika tidak, sang pawang mengancam ujung dupanya itu akan menusuk mereka satu per satu.

***
Pagi itu kebetulan kami sedang terbang rendah ketika mendapati segerombolan manusia berdesak-desakan mengerubungi sebuah tempat yang dinaungi. Kupikir kemarau telah menyebabkan kekacauan sehingga mereka harus antre untuk mendapatkan air. Maka kuutus beberapa ajudanku untuk turun melihat apa yang terjadi. Jika memang benar mereka butuh air, berarti kami harus segera terjun, tapi jika bukan, ya, setidaknya kita tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sekitar dua-puluh-lima prajurit kuturunkan untuk melihat situasi. Sekitar dua-puluh-lima detik pula mereka baru kembali.

“Itu artinya masing-masing dari kalian bekerja satu detik hanya untuk tugas semacam itu!”

“Maaf, seandainya Reon dan Rein tidak keras kepala untuk turut turun mungkin kita hanya butuh nol koma sekian detik untuk itu. Bayinya membuat kita harus terbang pelan.”

Rein mengalihkan pembicaraan dengan berucap, “Aku bertemu dengan malaikat di bawah sana.” Sebaliknya, beberapa lagi berkata, “Aku justru bertemu dengan makhluk bodoh yang mengancam kami dengan api.”

0 comments:

Post a Comment

 
FIKSIKOLOGI © 2017