SIMBOL
"Cerpen Mind Blowing"
Ilustrasi by google
Aku akan tetap duduk di sini sampai ada seseorang yang bertanya
padaku ‘Apa yang kau lakukan di sini?’, sambil kupikirkan jawaban terbaik untuk
pertanyaan itu.
Ini malam yang anggun. Lampu-lampu jalan menyala serentak selepas matahari
pamit untuk menyusui senja. Di tambah satu fakta besar lagi, ini sabtu malam.
Aku memilih duduk di bawah tiang lampu paling ujung, tepat di sudut tikungan
yang membatasi sebuah taman kota, di luar pagar besi—yang kalian bisa dengan
mudah memanjatnya jika berniat.
Kuanggap saja pangkal tiang lampu itu adalah kursi kelab malam nyaman
seperti yang kerap kupantati dulu. Memesan bir paling mahal sampai kelenger,
lalu berfantasi dengan apapun yang ingin kurengkuh. Meski tidak begitu
kenyataannya sekarang.
Aku duduk menghadap ke taman yang dipenuhi dengan wahana permainan
bocah—Kuda-kudaan matrealis yang tidak akan mau berbuat apa-apa jika tidak
dijejali koin, perosotan dengan ketinggian sedang yang tidak menyebabkan patah
tulang meski tersungkur dari puncaknya, juga ada ayunan berderet di sepanjang
sisi—lengkap dengan simbol ilustrasi siluet wajah sepasang kekasih sedang
berciuman yang dicoret dengan segaris warna merah. Sekalipun begitu, ada saja
bocah-bocah berkumis yang tanpa malu menikmati wahana tersebut.
Di belakangku, sebuah jalan berbatako kian ramai oleh kendaraan
yang berlalu lalang seiring malam. Sebagian di antaranya tanpa segan memarkir
kendaraannya pada bahu jalan yang meski jelas tertera huruf ‘P dipalang’ di
sana.
Seorang bocah usia lima tahunan yang baru saja turun dari dalam
mobil bersama orang tuanya, menunjuk tanda yang berarti ‘Dilarang Parkir’ itu.
“P,” fasih bocah itu mengeja, sambil menunjukkan gestur seolah ingin dipuji.
Kutebak bocah itu meniru ekspresi ibunya ketika berdandan di depan cermin saat
hendak pergi ke kondangan yang tidak biasa. Bapaknya mengelus rambut bocah itu
sebelum menjawab, “Ya. P.” Kemudian ketiga bibir keluarga yang sepertinya
bahagia itu tampak saling menyungging satu sama lain.
Ketika keluarga kecil—yang sepertinya bahagia—itu hendak melangkah
kemudian, entah mengapa aku spontan menyahut, “Bukan P. Kau harus tahu
maknanya.” Kutujukan kalimat itu kepada gadis kecil yang kini berada di
gendongan bapaknya. Tapi aku sendiri tidak bisa menjamin kalau orang tuanya
tidak tersinggung dengan ucapanku. Barangkali perangai ini mendapatkan kesan
seorang gelandangan yang sok tahu. Lantas kulemparkan pandangan sejauh mungkin
sebelum mereka menatapku lebih tajam. Berpura-pura seolah mata ini tidak sedang
memerhatikan mereka.
Beberapa detik kemudian kukembalikan posisi mataku ke keadaan
semula. Kini yang tampak dari keluarga yang sepertinya bahagia itu tak lebih
hanya tiga bidang punggung berukuran M, L dan XL. Langkahnya berayun mantap
melewati lapak-lapak khusus pedagang kaki lima yang berjejer di sisi seberang.
Mereka menuju ke sebuah restoran mewah di samping bioskop. Agaknya aroma soto,
bakso, rendang, penyet, lodeh adalah sesuatu yang mengganggu hidung mereka.
“Apa yang kaulakukan di sini?”
Akhirnya kudengar suara itu. Tadinya kukira menunggu pertanyaan
tersebut sama susahnya dengan menanyakan ‘adakah seorang dewasa yang tidak
pernah merasakan kesetrum?’.
Aku menoleh, dan mendapati seorang perempuan muda sedang melabrak
seekor lelaki yang duduk berdampingan dengan perempuan lain. Memerhatikan
pertengkaran mereka dari jarak yang sangat dekat sama halnya seperti menonton
bioskop telenovela tiga dimensi—Dulu aku kerap melakukan itu ketika istriku
memaksa. Dulu, sebelum ku-vonis bahwa malam adalah siang, sebelum kumis dan
jenggotku seputih dan seawut-awutan sekarang, sebelum aku gila, sebelum
istriku mengemudikan mobilnya dengan laju untuk janji temu dengan tuhannya.
Kalimat itu meluncur kembali dari bibir merekah milik si perempuan
tadi dengan telunjuk yang menusuk-nusuk dada lelakinya. Sedang perempuan
satunya hanya memilih bisu. Lalu kusimpulkan bahwa kalimat yang tadi itu sama
sekali tidak ditujukan padaku. Di akhir pertunjukan, lelaki itu menangis. Aku
hampir turut menangis—menangisi perempuan itu seandainya dia terperdaya.
Seperti ketika aku berada di dalam bioskop dengan suguhan adegan
yang melankolis, yang kerap hanya berujung bosan. Kalau sudah begitu aku
memilih beralasan kepada istriku bahwa aku sedang sakit perut, lantas pergi ke
toilet sambil menyulut berbatang-batang rokok hingga kuduga telah menginjak
menit-menit akhir. Lebih-lebih menyaksikan segmen pertengkaran dramatis di
tempat umum kian membuatku jelak. Maka kuputuskan pindah ke sudut yang lain, di
bawah pohon beringin yang tidak terlalu seram. Ada kursi kayu melingkari pohon
itu. Aku duduk di bawahnya. Menggunakan kaki kursinya sebagai sandaran.
Seorang lelaki gegas menghampiri. Seandainya aku pedagang asongan,
pastilah aku akan bersyukur. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam
yang dilonggarkan. Sebuah jas berwarna gelap tersampir begitu saja di
pundaknya. “Mau bir?” tawarnya. Begitu hendak kuraih botol yang ia suguhkan,
dia kembali merapatkan minumannya ke dada. Lalu berbicara panjang lebar dengan
sesekali jeda hanya untuk menarik napas, tertawa, atau meneguk minuman yang
urung ia tawarkan padaku.
“Enyahlah!” kataku berseringai.
Pria tadi lantas pergi dengan tetap mengoceh—mungkin—dengan makhluk
halus yang ada di dalam botol minumannya. Aku memandangi punggungnya cukup lama
hingga warna putih kemejanya lenyap ditelan gelap.
Sesaat aku merasa seperti ..., daun gugur yang baru saja mengenai
kepalaku. Tak ada yang peduli sekalipun untuk sekadar bertanya ‘Apa yang kau
lakukan di sini?’
“Hei, apa yang kau ...”
Seorang satpam terhuyung menghampiriku. Namun belum sempat ia
menyelesaikan kalimatnya, sebuah benturan keras terdengar dari kejauhan. Satpam
penjaga taman itu berlari menuju sumber suara. Aku membuntutinya.
Kecelakaan.
Mobil sedan hitam mengkilat penyok menghantam tiang lampu yang tadi
kududuki. Seorang perempuan terkulai di balik kemudi. Satpam tadi dibantu
segerombolan orang mencoba mengeluarkannya. Tubuh perempuan itu terjepit. Aku
turut membantu, menyelinap di sebelah satpam tadi sambil menyumbangkan tenaga
meregangkan besi mobil yang terasa panas.
“Maaf,” kataku kepada Si Satpam. Aku berusaha mencari momen di
sela-sela kepanikan. “Anda tadi ingin mengatakan apa padaku?”
“Yang mana?—,“ wajahnya tetap mencemaskan seorang perempuan yang
terkulai di balik kemudi. Semua mencemaskannya. “—tarik lagi!” katanya memberi
aba-aba kepada yang lain agar meregangkan body mobil yang ringsek.
“Tadi, ketika Anda menghampiriku di bawah pohon sana,” kataku
dengan menunjuk sebuah tempat di kejauhan hanya dengan gerakan kepala. “Anda
bilang; ‘Apa yang kau’, Lalu?”
“Coba lagi!” Dia menggunakan sebuah linggis untuk menarik sisi besi
yang bengkok “Kau bicara apa?” matanya menyiratkan kemarahan ke arahku.
“Aku hanya mau bertanya apakah ...”
“Keparat kau!” linggis itu diacungkan ke wajahku. “Kau membicarakan
hal tak penting sedangkan ada seseorang sedang sekarat di sini? Hah?” Orang-orang mulai memandangku geram. Kuputuskan untuk diam.
Setelah perempuan itu berhasil dikeluarkan, aku baru tersadar jika
dia adalah perempuan yang tadi menyemburkan lahar sumpah serapah ketika
memergoki kekasihnya bertanda-petik dengan perempuan lain. Orang-orang tampak
mengembangkan dada, lega. Kata salah seorang yang bergumam, perempuan itu
sengaja bunuh diri. Sabuk pengamannya sengaja tidak dikenakan, sebuah test
pack, juga ada pil anti depresan bertaburan di mobilnya.
Sudah pukul sebelas malam ketika aku mencuci tangan di air mancur bergoyang
di tengah-tengah taman. Tiba-tiba bayangan sebentuk wajah muncul di permukaan
airnya. Aku menjamah wajah itu, spontan rautnya berkerut dan bergelambir. Lalu
aku tahu ke arah mana harus menghadap. Bocah perempuan dari keluarga yang
sepertinya bahagia tadi menghampiriku, sendirian. “Apa yang kau lakukan di
sini?” bisiknya.
Oh. Kenapa harus bocah yang menanyakan hal itu?
Istriku pernah berkata, “Berdirilah di keasingan dan tunggu hingga
ada seseorang yang benar-benar memerhatikanmu. Maka kau akan tahu apa yang
kurasakan.” Saat itu menjelang sore. Aku menolak ajakannya untuk menonton film
di bioskop. Maka dia menangis dengan banyak sekali kata ‘seandainya’.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Bocah itu kembali berbisik. Menarik kemaja putihku hingga aku harus
membungkuk untuk mendengarkan ucapan selanjutnya, “Aku tahu.” Napasnya beraroma
lopster panggang.
“Tidak ada. Hanya mengenang—.” Improvisasi. Kusuguhkan senyum ke
wajah bocah itu. “—mengenang kebodohan.” Kupastikan dia tidak mendengar kalimat
terakhir yang kuucapkan.
Namanya Lolita, dia sempat melambai sambil menegaskan, “P!” Telunjuknya
mengacung. “Jangan melanggar!” sebelum
ia berlari kembali menuju ke orangtuanya.
***
Malam yang kesekian ribu. Malam yang tak pernah berubah. Malam dengan topeng yang selalu sama, dengan
pertanyaan yang tak pernah kumiliki jawabannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
SELESAI.

3 comments:
(Y) KEREN
Makasih udah mampir Mas Bagus Ridlo :) silakan baca yang lain. Jangan lupa tinggalkan respon. Semoga ada manfaatnya.
Officialernya masih sibuk kondangan, Om. :D
Post a Comment